Rabu, 04 September 2013

TOKOH AYAH, APA PERANMU MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK-ANAK???

Minggu lalu, saya menghadap promotor disertasi saya, Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Beliau sangat mendukung, dan banyak memberi masukan tentang penelitian saya mengenai harapan dan resilensi pada Narapidana yang Terinfeksi HIV/AIDS.

Kata mas Sarlito, saya harus mengambil juga data tentang masa kecil narasumber, terutama masalah pengasuhan oleh tokoh Ayah. Karena dalam berbagai penelitian beliau tentang teroris, hampir selalu pelaku terorisme adalah orang yang di masa kecilnya mengalami masalah dengan tokoh ayah, baik di neglect (diabaikan) maupun di abuse (dilecehkan, mendapat kekerasan). Karena itu beliau menganggap sangat penting melihat peran tokoh Ayah dalam perkembangan psikodinamika kepribadian para narasumber saya nanti, yaitu narapidana dengan HIV/AIDS, baik yang menjadi residivis maupun yang tidak kembali ke penjara.
Jelas, saya sependapat dengan Prof Sarlito. Tokoh Ayah yang bermasalah dalam hubungan dengan anak merupakan sumber masalah besar, baik di masyarakat biasa mau pun di kelompok khusus seperti narapidana, residivis, supir truk, anak buah kapal, penyalahguna narkoba, pelaku kekerasan, maupun teroris. Sering saya temui di ruang konsultasi dan dalam pergaulan sehari-hari, banyak orang bermasalah dalam hidupnya karena tidak hadirnya sosok Ayah dalam pengasuhan dalam pembentukan kepribadian maupun dalam pemberian contoh untuk membentuk perilaku yang adekuat.
Yang dimaksud dengan kehadiran tokoh Ayah bukanlah hanya hadir secara fisik, atau hanya memberi nafkah, atau hadir sebagai tokoh yang ditakuti, atau menghukum. Lebih dari itu, tokoh Ayah berperan dalam komunikasi yang sehat, berperan dalam interaksi dengan anak dan anggota keluarga, berperan mengasuh dan memberi contoh yang baik, berperan memberi masukan tentang peran tokoh laki-laki dalam kehidupan anak. Semua ini terkait dengan peran tokoh Ayah dalam berbicara, mendengar, merespon, menyentuh dan membelai hingga memeluk anak, memberi pujian dan penghargaan, memberi umpan balik terhadap perkembangan anak. Baik terhadap anak perempuan maupun anak laki-laki.

Penelitian skripsi saya tentang “Frustrasi dan Marah pada Ibu Rumah Tangga yang Tertular HIV/AIDS Dari Suami Dalam Perkawinan Monogami” memperlihatkan betapa perempuan-perempuan ini mengalami masalah yang rumit dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka mengalami masalah dalam hubungan dengan tokoh Ayah, baik Ayah yang kasar, pemarah, melakukan kekerasan verbal hingga kekerasan fisik, Ayah yang tidak peduli pada perkembangan anak, dst. Dalam perjalanan hidupnya mereka bingung mencari sosok lelaki yang memenuhi harapannya tentang laki-laki ideal, teman ideal, dan suami ideal. Perjalanan kebingungan itu membawa mereka terdampar pada laki-laki yang di awalnya bermulut manis, namun selanjutnya drama kekerasan verbal, kekerasan fisik, kekerasan seksual dan ekonomi menjadi jalan masuk bagi tertularnya mereka dengan infeksi-infeksi menular seksual dan HIV/AIDS dari suaminya sendiri. Setelah menginfeksi istri dengan HIV/AIDS dan segala penderitaannya, mereka mati, meninggalkan istri dan bayi-bayi dalam keadaan juga terinfeksi HIV dan AIDS. Tanpa dukungan siapa-siapa.

Pada laki-laki, tidak adekuatnya peran tokoh Ayah juga membuat mereka bingung menentukan sikap dan jati dirinya. Seorang lelaki ganteng, gagah perkasa, umur 42 tahun, mengalami masalah dalam perkawinan, Setelah 16 tahun menikah merasa kehilangan minat terhadap istri dan ingin bercerai saja. Ia terlibat cinta dengan sesama laki-laki (4 orang sekaligus!) selama bertahun-tahun. Ia dan istrinya sudah sudah hidup terpisah di dua kota yang sangat berjauhan, tapi tetap tidak bercerai (demi anak-anak!).

Di masa kecil dulu, ia sering melihat ayahnya yang kasar dan pemarah, mengata-ngatai dan memukul ibunya di depannya. Anak kecil berusia 3 tahun ini terpaksa bersembunyi di balik lemari sambil diam-diam menangis dan menyumpahi ayahnya biar cepat mati. Bahkan ia pernah menyaksikan, ayahnya yang bekerja di perkebunan itu, menyiksa ibunya yang pulang kesorean. Sang Ayah memukuli ibunya hingga babak belur, lalu menelanjangi ibunya, dan menghukumnya berlari mengelilingi area perkebunan yang sangat luas itu, sambil ayahnya mengejar dengan naik jip di belakang ibunya. Sinting, bukan? Anak laki-laki kecil ini berlarian menyusul ibunya sambil menangis, membawakan baju karena malu melihat ibunya telanjang dan disuruh lari oleh ayahnya.

Pengalaman ini membuatnya benci luar biasa pada ayahnya. Apalagi kemudian ayahnya pindah ke agama lain yang membuatnya merasa boleh beristri lebih dari satu. Dengan santai ayahnya bilang pada ibunya bahwa ia sudah punya istri lain dan ingin membawanya tinggal di rumah ini. Anak laki-laki kecil ini kemudian ikut ibunya, berpisah dari ayahnya. Ia bersekolah di sebuah sekolah berasrama yang muridnya laki-laki semua. Sejak awal sekolah, ia sudah menjadi bulan-bulanan kakak seniornya, mulai dari diajak mandi bareng, hingga diajak tidur bareng di kamar mereka. Tak terhitung seringnya ia disodomi oleh kakak-kakak kelasnya di asrama…. (orangtua, di mana kita??)

Sebagai akibatnya, ia takut sekali bersekolah di sana, dan berusaha sengaja untuk sering bolos, datang siang atau tidak mengerjakan tugas, supaya dikeluarkan dari sekolah dan asrama. Setelah dikeluarkan, ia jadi anak yang bertualang seks. Di usia 16 tahun, ia berpacaran dengan murid sekolah putri di depan sekolahnya, selama 3 tahun. Tak terhitung sudah berapa ratus kali ia berhubungan seks dengan pacarnya itu. Tentu beberapa kali pacarnya harus di aborsi karena kelakuannya. Lulus SMA, ia putuskan pacar itu. Baru masuk kuliah, ia pacaran dengan teman seangkatan, menghamilinya, dan menikah selama 16 tahun. Sambil berpacaran dengan 4 orang lelaki sekaligus.
Dan sekarang ia benar-benar bingung, merasa dirinya sudah gila karena terperangkap dalam perkawinan dengan perempuan yang ternyata tidak dicintainya, hanya perlu ngeseks saja. Dan ke-4 lelaki pacarnya itu memorotinya, dan salah satu diantaranya mengancam akan membeberkan rahasia ini ke mana-mana. Ia marah dan dendam pada ayahnya yang sekarang sudah tua, sakit-sakitan dan beristri 4. Ia berani mengatai ayahnya “anjing, bangsat”. Ia puas melihat ayahnya sekarang menderita di masa tua. Ia nelongso melihat ibunya yang sudah tua, sakit-sakitan dan sakit hati sepanjang hayatnya. Ia dendam pada kakak-kakak kelasnya yang membully-nya di asrama, yang meraba-rabanya waktu mandi dan tidur, yang menyodominya… Sekarang ia mencari mereka di Facebook, karena ia ingat betul nama-nama dan wajah mereka, yang kini sudah bersalin rupa menjadi pria-pria sukses, ayah dan suami yang nampaknya bertanggungjawab… Tokoh Ayah, apa peran Anda dalam membentuk kepribadian anak-anak Anda? Mungkin Anda hadir secara fisik, tapi Anda tidak eksis, tidak berperan, kecuali sebagai tokoh yang menghukum dan menakuti anak. Mungkin Anda membiayai anak-anak, tapi bukan hanya itu yang mereka butuhkan….

Baby Jim Aditya M.Psi, Psikolog, Life Coach
Seksolog, Hypnoterapis, Grafolog
Klinik Angsamerah – telp. 021-391-5189
www.angsamerah.com
www.babyjimaditya.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar