Tampilkan postingan dengan label Kanker Serviks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker Serviks. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

USG Tak Melulu Untuk Ibu Hamil

Masyarakat jaman sekarang bisa dibilang sudah sangat akrab dengan istilah USG. USG memang sudah diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sejak itu semakin popular sebagai sebuah metode pemeriksaan yang tidak invasif. Apalagi bagi mereka yang sudah punya anak. Kunjungan rutin ke dokter kandungan disertai pemeriksaan USG untuk mengetahui kondisi sang jabang bayi menjadikan sebagian besar orang beranggapan bahwa guna USG hanya untuk melihat jenis kelamin. 



USG atau ultrasonografi merupakan alat bantu dokter untuk menegakkan diagnosis melalui pencitraan tubuh bagian dalam yang menggunakan gelombang ultrasound. Jadi alat ini tidak hanya bisa menilai perkembangan janin di dalam kandungan, melainkan juga memberikan gambaran tentang kondisi organ-organ tubuh manusia.


Minggu, 09 Juni 2013

Pap Smear dan pernak perniknya....

Tes Pap adalah cara untuk melihat ada tidaknya perubahan yang terjadi di serviks (mulut rahim). Bila tidak cepat diatasi, perubahan ini bisa mengarah ke kanker. Jika dilakukan teratur, perubahan pada serviks bisa diketahui dan ditangani lebih dini.
Setiap wanita berapapun umurnya, yang sudah pernah melakukan hubungan seks. Sebaiknya melakukan tes Pap secara teratur sejak 2 tahun setelah melakukan hubungan seksual.
Karena sel-sel baru secara teratur menggantikan sel-sel lama dan tes Pap tidak 100% akurat, amat disarankan tes Pap dilakukan teratur tiap 2 tahun sampai umur anda mencapai 70 tahun.

Kapankah saya bisa melakukan Pap Smear?
Saat tidak sedang menstruasi, paling baik antara 10-20 hari setelah menstruasi hari pertama. 2 hari sebelum tes Pap, hindari penggunaan douche atau spermisida, krim, atau jelly (kecuali bila diperintah oleh dokter), karena dapat menyulitkan pembacaan hasil. Hindari berhubungan seks 1–2 hari sebelum tes Pap. Setelah tes dilakukan, wanita tersebut dapat melakukan aktivitas seperti biasa.

Bagaimana prosedur tes Pap?
Dokter/perawat akan melakukan pemeriksaan dengan speculum yang dimasukkan ke dalam vagina. Kemudian kuas halus diusapkan di serviks dengan lembut. Biasanya prosedur ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit dan mungkin memberikan sedikit rasa tidak nyaman.
Hasil usapan ditempatkan di kaca preparat dan dikirim ke lab untuk pemeriksaan mikroskop. 1 dari 10 hasil tes Pap akan menunjukkan hasil yang membutuhkan tindak lanjut. Biasanya masalah  yang keluar adalah masalah minor – jadi jangan berpikir jelek dulu ketika anda disuruh datang kembali untuk mendiskusikan hasil tes Pap anda. Dokter akan memberitahukan tes atau penanganan yang dibutuhkan berhubungan dengan masalah tersebut. Sedini mungkin kelainan terdeteksi, semakin mudah ditangani.

Seberapa akurat hasilnya?
Tes Pap tidak 100% akurat karena berbagai alasan. Contoh, abnormal sel tidak ada di bagian yang diambil sebagai sampel, hasil sulit dibaca, atau ada sel abnormal pada kaca preparat yang tidak terlihat.

Apa arti hasil tes Pap?
  •  Normal. Tidak ada sel abnormal terdeteksi.
  • Atypical squamous cells (ASC). Squamous cells adalah sel pipih dan tipis yang membentuk permukaan serviks
  • Atypical squamous cells of undetermined significance (ASC-US), sel tidak semuanya terlihat normal, tetapi dokter belum mengetahui arti dari perbedaan tersebut. Kadang dihubungkan dengan infeksi human papillomavirus (HPV).
  • Atypical squamous cells cannot exclude a high-grade squamous intraepithelial lesion (ASC-H), sel tidak terlihat normal tapi masih belum diketahui arti dari perubahan tersebut. Kelompok ini dimungkinkan resiko yang lebih tinggi untuk menjadi prakanker.
  • Atypical glandular cells (AGC). Sel glandular adalah sel yang menghasilkan lendir dan berada di saluran endocervical (bukaan di tengah serviks) atau di sepanjang uterus. Perubahan yang terjadi pada sel ini masih belum dapat diketahui artinya.
  • Endocervical adenocarcinoma in situ (AIS), yaitu sel prakanker di jaringan glandular.
  • Low-grade squamous intraepithelial lesion (LSIL), ada perubahan awal dari bentuk & ukuran sel. Lesi berarti area tertentu yang tidak normal. Intraepithelial merujuk kepada lapisan sel yang membentuk permukaan serviks. LSIL diklasifikasikan sebagai abnormalitas ringan akibat infeksi HPV.
  • High grade squamous intraepithelial lesion (HSIL), adanya sel yang sangat berbeda dengan sel normal.

"Kenyamanan Pasien, Prioritas Layanan Kami"



Diah Mayangsari S.Kep, NERS
Reviewed by Angsamerah’s physicians


Angsamerah Clinic
Graha Media Building Lt.2
Jl. Blora 8-10, Menteng, Jakarta Pusat 10310



Kanker Serviks - A Silent Killer


Kanker serviks merupakan kanker peringkat pertama di Indonesia dan peringkat kedua di dunia yang diderita oleh wanita. Di seluruh dunia setiap dua menit atau setiap satu jam di Indonesia seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks. 

Sangat penting bagi perempuan untuk mengetahui dengan baik apa itu kanker serviks, sehingga dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Serviks adalah bagian bawah dan menyempit dari uterus/rahim, atau biasa dikenal dengan nama mulut rahim. Serviks membentuk saluran yang berujung pada vagina, dan bagian luar tubuh. 
Kanker serviks adalah kelainan yang terjadi pada sel-sel tubuh, dalam hal ini sel-sel serviks, yang berkembang dengan cepat dan tidak terkontrol.

Apa penyebabnya? 

90% penyebab kanker serviks adalah infeksi human papilomavirus (HPV). HPV adalah virus yang ditularkan melalui kontak alat kelamin, terutama vaginal dan anal. Selain infeksi HPV, faktor risiko lainnya adalah:

  • Merokok
  • Penurunan daya tahan tubuh
  • Riwayat aktivitas seksual. Wanita yang sering berganti partner seksual beresiko lebih besar untuk terkena kanker serviks. Dan juga wanita yang pasangannya sering berganti pasangan. Hal ini disebabkan karena kedua kelompok tersebut rentan terhadap infeksi HPV.
  • Penggunaan kontrasepsi pil dalam jangka panjang. Penggunaan pil KB jangka panjang (5 tahun atau lebih) dapat meningkatkan resiko terkena kanker serviks.
  • Melahirkan banyak anak. Melahirkan lebih dari 5 kali meningkatkan resiko terkena kanker serviks lebih tinggi.
  • DES (diethylstilbestrol). Bila DES diberikan kepada ibu hamil dapat meningkatkan resiko terkena kanker serviks dengan jenis yang langka pada anak perempuan yang dikandungnya. Pada saatini DES sudah tidak diberikan kepada ibu hamil.
Gejalanya?

Kanker serviks stadium awal seringkali tidak memperlihatkan gejala. Ketika kanker tersebut sudah berkembang lebihbesar, gejalanya dapat berupa - Perdarahan vaginal yang abnormal:
  • Perdarahan yang muncul diantara dua siklus haid yang reguler
  •  Perdarahan setelah berhubungan seksual, douching, atau pemeriksaan pelvis
  •  Haid yang berlangsung lebih lama dan lebih banyak daripada yang biasa
  •  Perdarahan setelah menopause
  •  Nyeri panggul 
  • Nyeri ketika berhubungan seks
  • Keputihan yang banyak
Bagaimana saya bisa mencegahnya?

Cara paling ampuh untuk mencegah penularan infeksi menular seksual adalah tidak berhubungan seks. Baik vaginal, anal, maupun oral. Tetapi kita sangat menyadari kontak seksual merupakan kebutuhan dasar manusia sehingga pencegahan yang dapat diambil untuk mencegah kanker serviks dapat dipertimbangkan dari salah satu cara berikut.
  • Setia. Berhubungan seks dengan hanya satu partner dan saling setia akan menurunkan resiko terkena kanker serviks
  • Vaksinasi. Vaksin HPV dapat melindungi anda dari tipe HPV yang seringkali menjadi penyebab kanker serviks, vagina, dan vulva.
  • Lakukan tes Pap secara berkala
  • Hindari merokok
  • Menggunakan kondom bila berhubungan seksual tidak dengan pasangan anda. Penggunaan kondom dengan tepat dapat mengurangi resiko infeksi HPV sebanyak 70%.
  • Batasi partner seks anda
Bila anda mendapatkan hasil abnormal pada tes Pap anda atau anda memiliki pertanyaan seputar kanker serviks, segera hubungi dokter anda atau layanan kesehatan terdekat.

Semakin dini terdeteksi, semakin baik.