![]() |
Hola Sahabat Pembaca Angsamerah,
Artikel-artikel di Blog ini sekarang sudah bisa Sahabat Akses di website kami di blog.angsamerah.com
Blog ini akan kami tutup, dan artikel terbaru akan kami muat di website kami, yang secara khusus memiliki sistem "search" yang memudahkan sahabat memilih artikel dan juga membaca dengan nyaman.
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Mental. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Mental. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Desember 2013
Gangguan Panik: Ketakutan Hebat dan Ancaman Kematian
Selasa, 05 November 2013
Sebuah Catatan Tentang Percaya Diri
![]() |
| courtesy of howwemontessori.typepad.com |
Bagi yang mungkin pernah sebentar saja melihat video sekumpulan remaja sekolah menengah yang melakukan percobaan mengenai seksualitas di dalam kelas yang sempat heboh di dunia maya, akan melihat bahwa si remaja perempuan pemeran utama dalam video tersebut memperlihatkan bahasa tubuh yang mengisyaratkan ketidaknyamanan. Dalam beberapa kesempatan ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya seperti ingin mengatakan “Sudah, sampai di sini saja…”. Akan tetapi, mungkin karena tidak enak dengan teman-teman yang lain, atau karena malu dianggap nggak asyik, maka yang kemudian terjadi adalah “Ya sudahlah, terserah deh mau ngapain aja…”
Perasaan terpaksa atau ya sudahlah tidak hanya terjadi untuk hal-hal seperti di atas. Seringkali ini juga menjadi masalah untuk menampilkan potensi sesungguhnya si remaja di bidang yang positif, akademik misalnya. Semua karena masalah rasa percaya diri. Bagaimanapun, kepercayaan diri adalah sebuah nilai yang melekat pada diri seseorang yang dia tentukan sendiri. Kepercayaan diri berasal dari individu tersebut, bukan dari orang lain. Maka ketika seseorang tidak bisa menaruh nilai percaya yang pantas terhadap dirinya sendiri, timbullah berbagai masalah.
Rasa percaya diri besar pengaruhnya dalam menentukan pola hubungan seseorang dengan orang lain. Apalagi pada remaja, saat peralihan dari masa kanak-kanak menuju orang dewasa. Anak yang tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi biasanya lebih mudah untuk mengembangkan hubungan dengan kepedulian dan relatif kebal dari eksploitasi oleh orang lain.
Sementara itu, anak yang memiliki rasa percaya diri yang rendah cenderung memiliki tuntutan yang tidak realistis terhadap diri mereka sendiri. Biasanya mereka juga tidak mampu mengevaluasi diri mereka sendiri secara akurat. Karakteristik seperti inilah yang berisiko membuat anak mengalami kegagalan dalam aktifitas yang dia lakukan. Akibatnya ia akan memandang dirinya sebagai orang yang tidak berharga, dan menjadi lingkaran setan kegagalan.
Apa yang diajarkan di rumah hendaknya ditunjang dengan suasana positif di sekolah, sehingga proses menumbuhkan kepercayaan diri pada anak dapat berlangsung optimal. Dengan demikian anak akan tumbuh menjadi remaja yang berpandangan positif tentang dirinya dan dapat membuat dirinya bermanfaat bagi lingkungan.
Baik sebagai orang tua atau guru, hendaknya perlu menyisihkan waktu sejenak untuk bicara pada anak tentang apa yang diharapkan dari diri mereka. Anak yang tumbuh dengan kejelasan tujuan dalam hari-harinya akan terhindar dari perasaan ragu-ragu. Karena yang dibutuhkan seorang anak dalam tumbuh dan berkembang sesungguhnya adalah rasa aman (secure).
Referensi:
Resource Materials for Relationship & Sexuality Education from www.education.ie
dr.Gina Anindyajati
Angsamerah Clinic
Graha Media Building Lt.2
Jl. Blora 8-10, Menteng, Jakarta Pusat 10310
+6221-3915189
Selasa, 27 Agustus 2013
The Fourth World Congress of Asian Psychiatry 2013, (WCAP2013) Bangkok, Thailand - Angsamerah LEADERS Showed RESULTS
The Angsamerah LEADERS - Dr. Ratna Mardiati, Dr. Gina Anindyajati, Dr. Danang Andriyanto
Dr. Ratna Mardiati, SpKJ - Oral Presentation Title - Mental Illness among Inmates in Indonesian Correctional Facility.
From 5 model correctional facilities in Indonesia, 65% of inmates have mental illness according to MINI International Neuropsychiatry Interview, with 36% of them have substance/drug dependence. The most common group of mental illness among inmates are neurotic, mood disorder, substance/drug dependence, and psychotic.
Dr. Gina Anindyajati - Poster Presentation Title - Alcohol, Smoking, and Substance Involvement Screening among Inmates at Madiun Correctional Facility
95% inmates at Madiun Correctional Facility are being involved with alcohol, tobacco, and other substances. This behavior may lead to various behavior including spread of infection such as Hepatitis B and HIV/AIDS. These inmates need brief intervention to reduce the health risk and reuse of aforementioned substances.
Dr. Danang Andriyanto - Poster Presentation Title - Mental Disorder among Inmates at Narcotic Correctional Facility of Yogyakarta
More than 50% inmates had mental disorder, with most of them had multiple mental disorders. the biggest problem inside this correctional facility was drug dependence.
Preparation for the Poster Presentation - Standing high for the best view
Dr. Gina Anindyajati with colleagues from Department of Psychiatry, Faculty of Medicine, University of Indonesia.
Selasa, 20 Agustus 2013
SAATNYA BERKESEHATAN JIWA DALAM BERKOMUNIKASI - Dr. Ratna Mardiati, SpKJ
![]() |
| mind sketch by ns |
Setiap hari kita bertemu orang, menyapa, berbicara, mendengarkan dan banyak berkata-kata. Apakah ini suatu bentuk komunikasi? Kalau kita melihat iring-iringan semut ditembok, semut juga memberi sapaan pada kawan-kawannya. Mereka juga berkomunikasi. Meski komunikasi dilakukan setiap saat dalam kehidupan kita sehari-hari, komunikasi masih saja bermasalah: miskomunikasi.
Miskomunikasi merupakan pemicu ketidak harmonisan relasi antar manusia, antar bangsa bahkan antar makhluk.
Hidup damai, saling menghargai,
saling mengasihi, adalah kunci kesejahteraan. Kesejahteraan merupakan ciri
kesehatan jiwa. Berbicara jiwa, orang menggambarkannya sebagai sesuatu yang
tidak nampak namun terasa. Jiwa adalah cermin dari perasaan, pikiran, dan perilaku. Meski lembut tutur bahasa, bilamana perilaku tidak
mengiringi, maka jiwa tidak menunjukan bahwa ia sehat. Meski termenung
tidak berkata, tidak mengganggu orang lain, orang akan membaca sebagai orang
dengan jiwa sedang tidak sehat. Jiwa tidak sehat bukan monopoli orang gila (baca: skizofrenia), ia cermin dari segala ketidak
serasian antara pikiran-perasaan dan perilaku. Maka suatu saat dalam hidup
kita, kita pernah mengalami gangguan jiwa, tak pandang status sosial maupun ekonomi.
Selasa, 30 Juli 2013
Semuanya Ada di Otak
![]() |
| courtesy of etsy.com |
“It's been my experience that you can nearly always enjoy things if you make up your mind firmly that you will.”
Segala perasaan yang kita rasakan dalam keseharian, ternyata merupakan kerja dari berbagai zat kimia yang bertebaran di otak. Tulisan berikut mengupas hanya dua di antaranya, tapi keduanya sungguh memiliki efek yang luar biasa.
Dopamin, neurotransmiter pembuat bahagia
Komunikasi sistem saraf memerlukan zat kimia penghantar pesan, namanya: neurotransmiter. Neurotransmiter akan berjalan melewati sambungan sel saraf yang satu dengan yang lain. Macamnya banyak, antara lain ada yang bernama dopamin. Dopamin akan menyeruak dari kandang neurotransmiter (yang bernama vesikula) ketika kita merasa senang. Keluarnya dopamin dari vesikula sebuah sel saraf membuat ia menyampaikan pesan senang ke sel saraf berikutnya yang ia hubungi. Dengan demikian menjalarlah rasa senang ke seluruh sistem saraf pusat: otak dan korda spinalis (sumsum tulang belakang). Dari sini pesan kemudian dipancarkan ke seluruh saraf tepi dan beraksilah otot menanggapi kegembiraan -- tertawa, melonjak kegirangan, bertepuk tangan, dsb.
Karena perannya dalam menimbulkan rasa senang, dopamin memaksa seseorang mempertajam perhatian pada kebutuhan dirinya. Kesenangan yang didapat berdasarkan pengalaman mendorongnya melakukan kegiatan yang sama secara berulang. Karena setiap kali dopamin terhambur dari vesikula, dia akan melakukan pendaran aktivitas komunikasi pada sel-sel saraf dalam otak. Melalui cara ini seseorang tergugah untuk memenuhi kebutuhannya akan kesenangan.
Dopamin memotivasi orang mencapai cita-citanya, mengejar kebutuhannya, menggeluti kesenangannya. Dopamin memang membuat kita senang, tetapi dopamin yang berlebihan membuat orang bingung. Banjir dopamin akan terjadi ketika zat stimulan seperti amfetamin, ekstasi, dan shabu ikut campur dalam proses pengeluaran dopamin dari vesikula. Mulanya ketika masih belum banjir dopamin, orang akan senang. Begitu banjir maka orang akan bingung, curiga, dan gelisah, yang dikenal sebagai ‘parno’. Porsi dopamin tertentu akan membuat senang, berlebihan akan membuat kita psikosis alias bingung, curiga, ketakutan dan bertingkah laku sesuai kebingungan diri.
Serotonin, neurotransmiter pembuat percaya diri
Orang senang dihargai, dihormati dan dapat unggul dari orang lain. Rasa ini muncul karena pekerjaan serotonin, suatu neurotransmiter, yang membawa pesan dari satu sel saraf ke ribuan sel saraf berikutnya. Serotonin berfungsi untuk membangkitkan rasa percaya diri. Seseorang akan mencari aktifitas yang dapat membuat dirinya merasa berharga seperti yang pernah dialaminya di masa lalu. Kenyamanan yang ditimbulkan serotonin senantiasa dicari dengan melakukan perbuatan berulang yang dapat membuat dirinya merasa dihargai.
Membangun keyakinan berharga diri melalui aktifitas yang diyakini membuat diri Anda merasa berharga dapat dilakukan setiap hari. Pikiran seperti ini akan memicu serotonin menyamankan diri dan Anda menjadi percaya diri. Fokuskan pandangan dan pikiran ke arah keberhasilan, maka serotonin akan tersembur dari vesikula. Jika perhatian difokuskan pada kegagalan, serotonin akan menurun, dan Anda merasa tidak nyaman.
Mau merasa bahagia seolah menembus angkasa atau justru terpuruk di permukaan tanah, semua tergantung isi otak Anda. Jangan ragu untuk datang dan berkonsultasi bila merasa perlu bantuan menata ulang pemikiran Anda. Selamat bersenang-senang :)
Editor:
Angsamerah Clinic
We provide comprehensive general health care services for men and women with giving attention on sexual and reproductive health. (Layanan Kesehatan Umum Komprehensif untuk Kesehatan Pria dan Wanita dan eksklusif layanan kesehatan reproduksi dan seksual)
Address:
Graha Media Builidng 2nd Fl
Jl Blora no 8 Menteng, Jakarta Pusat 10310
www.angsamerah.com
Opening Hours
Monday to Friday: 09.00 am to 18.00 pm
Saturday: 12.00 - 17.00 pm
Service is available by APPOINTMENT. Services will be apllied ON TIME
For appoinment call +62 21 391 51 89 or email customer@angsamerah.com
Address:
Graha Media Builidng 2nd Fl
Jl Blora no 8 Menteng, Jakarta Pusat 10310
www.angsamerah.com
Opening Hours
Monday to Friday: 09.00 am to 18.00 pm
Saturday: 12.00 - 17.00 pm
Service is available by APPOINTMENT. Services will be apllied ON TIME
For appoinment call +62 21 391 51 89 or email customer@angsamerah.com
Jumat, 26 Juli 2013
Puasa dan Kesehatan Mental
![]() |
| courtesy of lifebeyondtheveil.co |
Saat berpuasa, baik fisik maupun mental kita sedang menjalani sebuah latihan, meski yang paling nyata memang latihan menahan rasa lapar dan haus. Dengan berpuasa, seperti ajaran yang turun temurun dalam agama, bahwa manusia dapat menjadi lebih tenang dan memiliki kesadaran spiritual.
Puasa dan Umat
Selama ini puasa sangat lekat dengan identitas sebagai muslim. Memang di dunia terdapat satu milyar kaum muslim yang melakukan puasa selama bulan Ramadhan. Tapi selain umat muslim, hampir 14 juta umat Yahudi berpuasa pada Day of Atonement (Yom Kippur) yaitu hari penghapusan dosa, dan saat-saat lainnya. Penganut ajaran Hindu juga puasa pada hari Ekadashi, Janmashtami, dan bulan Shravan. Ajaran agama apapun sepakat mengenai ritual puasa demi manusia mencapai keadaan mental yang sehat.
Puasa dan Jenisnya
Metode melakukan puasa bervariasi, tidak selalu harus dilakukan seharian penuh seperti yang dilakukan umat Muslim saat bulan Ramadhan. Di luar puasa sebagai bagian dari ritual keagamaan, puasa ditinjau dari sisi kesehatan menuntut adanya asupan kalori yang teratur. Cara pengaturannya bisa dengan memodifikasi waktu puasa, jumlah kalori yang dikonsumsi, dan jenis asupan yang dikonsumsi.
Jenis puasa berdasarkan pengaturan waktu dan jumlah kalorinya adalah:
- Intermittent Fasting (IF): dikenal sebagai puasa selang sehari, tidak makan satu hari kemudian makan satu hari. Dilakukan pada jangka waktu tertentu.
- Pembatasan makanan untuk 2 hari sampai beberapa minggu. Selama hanya mengonsumsi 200-500 kalori per hari dalam bentuk buah atau karbohidrat yang mudah dicerna seperti nasi.
- Calorie Restriction: dalam periode tertentu kalori dibatasi asupannya 30-40% lebih sedikit daripada sehari-hari.
Selain pengaturan waktu, jenis asupan pun bisa menjadi dasar dilakukannya puasa. Tiga jenis puasa menurut asupannya adalah:
- Dry fasting (puasa kering). Dilakukan jika selama puasa individu menghentikan semua makan dan minum.
- Juice fasting. Saat menerapkan metode ini individu diperkenankan mengonsumsi jus. Jus dibuat dengan campuran air, sayuran dan buah-buahan murni, tanpa tambahan gula. Konsumsi jus sangat cocok untuk mengendalikan kewaspadaan mental, badan masih mendapat asupan nutrisi penting yang dibutuhkan.
- Modified fasting. Metode campuran yang memungkinkan individu untk minum dan makan dalam jumlah kecil seperti sayur kukus dan buah, juga teh.
Puasa dan Neurotransmiter
Bagi yang tidak terbiasa berpuasa tentu bertanya-tanya, “Apa nggak semaput tuh nggak makan nggak minum seharian?”. Manusia adalah mahluk dengan tingkat adaptasi yang paling tinggi. Selama minggu pertama puasa, tubuh mulai beradaptasi dengan rasa lapar melalui pelepasan masif hormon katekolamin, termasuk epinefrin (adrenalin), norepinefrin, dan dopamin. Selain itu juga ada pelepasan glukokortikoid, sebuah hormon steroid untuk mengatur respon imun dan metabolisme glukosa (gula).
Zat yang tersebut di atas merupakan zat kimiawi yang juga dilepaskan saat manusia berada dalam kondisi stress. Respon ini dikenal sebagai respon ‘fight or flight’. Hanya dalam waktu sebentar, badan mampu merespon keadaan lapar sehingga merasa lebih baik dan bahkan ingin terus melanjutkan puasa. Pada fase ini tubuh terlindungi dari kemungkinan kerusakan oksidatif dan ketahanan sel terhadap stres meningkat. Mekanisme yang sama juga terjadi pada tubuh orang yang rajin berolahraga.
Puasa dan Studi Ilmiah
Michaelson et. al. pada 2009 dalam hasil studinya memaparkan bahwa puasa terapeutik mampu menurunkan gejala depresi dan memperbaiki skor kecemasan pada 80% pasien nyeri kronik dalam beberapa hari. Mekanisme pastinya tidak diketahui, mungkin saja terkait dengan pelepasan endorfins pada 48 jam pertama puasa. Melalui pengeluaran endorfin yang tinggi akan membuat orang seperti menggunakan opiat, membuat badan terasa nyaman. Studi Michaelson et. al. pada tahun 2003 menunjukan bahwa setelah 8 hari puasa terapeutik terjadi perbaikan tidur dibanding sebelum puasa.
Pada orang yang beberapa malam sulit tidur maka moodnya akan mengalami gangguan serta merasa tidak sejahtera. Gangguan seperti ini juga mengakibatkan tidur menjadi sulit, sebuah lingkaran setan. Ketika mereka berpuasa, kualitas tidur menjadi lebih baik.
Dengan berpuasa juga dapat meningkatkan kadar serotonin, yakni hormon yang diperlukan manusia untuk bisa merasakan percaya diri dan berharga. Jenis puasa intermiten mampu meningkatkan zat kimia BDNF (brain-derived neurotrophic factor), yang terkait dengan peningkatan neurogenesis hipokampus, sebuah proses pembentukan neuron (sel saraf) di otak. Artinya makin banyak BDNF, makin baik proses pembentukan neuron baru. Pada model binatang, BDNF terlihat dapat memperbaiki fungsi otak yang terkena stroke, penyakit Parkinson, dan Huntington.
Di tubuh kita terjadi sebuah proses yang dinamakan autofagi, yakni suatu proses fisiologis di mana sel tubuh yang tua pecah strukturnya dan material sampahnya di daur ulang menjadi materi baru. Kondisi ini lazim terjadi saaat sel kekurangan energi akibat kurangnya asupan, atau keadaan penyakit tertentu sebagai respon pertahanan. Melalui proses ini, komponen yang dianggap tidak penting dari sel akan dibuang atau didaur ulang.
Puasa dan Gangguan Jiwa
Dari uraian studi di atas, puasa memurnikan sel seluruh tubuh, termasuk otak dengan sel saraf yang baru. Status mental negatif seperti kecemasan (ansietas), bosan/jenuh, kesepian, tegang, dan takut, merupakan ekspresi mental yang bisa memengaruhi status fisik. Ketika otak dibebaskan dari toksin, jiwa menjadi bebas tekanan fisiologis dan kemudian psikologis. Obat psikologis hanya sementara memengaruhi status mental melalui kerjanya di otak, sementara puasa akan membuat mereka terbebas dari toksin. (Bragg & Bragg, 1999).
Referensi:
Editor:
Angsamerah Clinic
Graha Media Building Lt. 2
Jl. Blora 8-10, Menteng, Jakarta Pusat 10310
+6221-3915189
Langganan:
Postingan (Atom)











