Logika yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Dr. Gina Anidyajati
Hola Sahabat Pembaca Angsamerah,
Artikel-artikel di Blog ini sekarang sudah bisa Sahabat Akses di website kami di blog.angsamerah.com
Blog ini akan kami tutup, dan artikel terbaru akan kami muat di website kami, yang secara khusus memiliki sistem "search" yang memudahkan sahabat memilih artikel dan juga membaca dengan nyaman.
Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 Agustus 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
SAATNYA BERKESEHATAN JIWA DALAM BERKOMUNIKASI - Dr. Ratna Mardiati, SpKJ
![]() |
| mind sketch by ns |
Setiap hari kita bertemu orang, menyapa, berbicara, mendengarkan dan banyak berkata-kata. Apakah ini suatu bentuk komunikasi? Kalau kita melihat iring-iringan semut ditembok, semut juga memberi sapaan pada kawan-kawannya. Mereka juga berkomunikasi. Meski komunikasi dilakukan setiap saat dalam kehidupan kita sehari-hari, komunikasi masih saja bermasalah: miskomunikasi.
Miskomunikasi merupakan pemicu ketidak harmonisan relasi antar manusia, antar bangsa bahkan antar makhluk.
Hidup damai, saling menghargai,
saling mengasihi, adalah kunci kesejahteraan. Kesejahteraan merupakan ciri
kesehatan jiwa. Berbicara jiwa, orang menggambarkannya sebagai sesuatu yang
tidak nampak namun terasa. Jiwa adalah cermin dari perasaan, pikiran, dan perilaku. Meski lembut tutur bahasa, bilamana perilaku tidak
mengiringi, maka jiwa tidak menunjukan bahwa ia sehat. Meski termenung
tidak berkata, tidak mengganggu orang lain, orang akan membaca sebagai orang
dengan jiwa sedang tidak sehat. Jiwa tidak sehat bukan monopoli orang gila (baca: skizofrenia), ia cermin dari segala ketidak
serasian antara pikiran-perasaan dan perilaku. Maka suatu saat dalam hidup
kita, kita pernah mengalami gangguan jiwa, tak pandang status sosial maupun ekonomi.
Langganan:
Postingan (Atom)

