Senin, 15 April 2013

Mengenal Depresi

Courtesy of bighannahmontanafan.com
Iseng mencoba mengetik “bunuh diri” pada kolom mesin pencari di internet, ternyata hasilnya mengejutkan. Percaya atau tidak, didapatkan sekitar 12.000.000 entry dengan kata kunci ini. Pemberitaan mengenai bunuh diri atau percobaan bunuh diri pun tak asing kita saksikan di media massa. Nampaknya fenomena ini benar-benar tidak pandang bulu, yang kaya maupun yang miskin, yang terkenal maupun tidak, semua ada beritanya.

Hidup memang kadang di atas kadang di bawah. Sebagai manusia, rasanya pun wajar jika kita bersedih hati atau merasa tak bersemangat untuk beraktivitas. Apalagi di zaman seperti sekarang ini, di mana semua berjalan dengan ritme yang begitu cepat, semua orang bekerja lebih keras dibanding waktu dulu, hampir sebagian besar dibayar lebih sedikit dari yang seharusnya, maka hal yang lumrah bila kita tidak selalu merasa “100% energized”.

Normalnya perasaan seperti itu berlangsung sebentar dan hilang dalam hitungan hari, namun bila rasa ini tidak hilang dalam jangka waktu lama, sangat mungkin Anda mengalami depresi. Keadaan depresi membuat seseorang tak bisa berfungsi sebagaimana biasanya dan menimbulkan beban bagi orang terdekat. Depresi adalah keadaan yang umum ditemui dan merupakan kondisi yang serius, sehingga butuh penanganan ahli untuk kembali ke kondisi baik.

Bagi banyak orang penyebab depresi adalah karena stres yang hebat. Bagi sebagian yang lain, depresi adalah sesuatu yang sifatnya diturunkan dalam keluarga. Semuanya benar, depresi terjadi karena kombinasi genetik, faktor biologis dan lingkungan, serta psikologis. Meski berbagai riset telah dilakukan, namun tetap saja sulit untuk menentukan apa sebenarnya penyebab depresi.

Salah satu teori mengatakan bahwa depresi adalah suatu kondisi di mana otak kita mengalami gangguan akibat ketidakseimbangan neurotransmiter—zat kimia yang memungkinkan sel otak untuk berkomunikasi. Teknologi, melalui pencitraan otak dengan MRI (magnetic resonance imaging), menunjukkan bahwa ada perbedaan antara otak manusia normal dengan yang mengalami depresi pada bagian tertentu. Ilmuwan juga mengatakan jika beberapa jenis depresi memang muncul di keluarga dengan riwayat depresi, tapi mereka yang keluarganya tidak punya riwayat depresi pun tetap bisa mengalami episode depresi.

Suatu trauma yang hebat mampu membuat seseorang mengalami depresi, dan hal ini rupanya lebih sering terjadi pada wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejolak hormonal yang terjadi sepanjang hidup seorang wanita memberikan efek langsung terhadap proses kimiawi di otak, sehingga mereka rentan terhadap depresi. Contohnya depresi pasca melahirkan, premenstrual syndrome (PMS), atau yang lebih para disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Selain hormon, banyaknya tuntutan kepada seorang wanita seiring dengan perkembangan zaman juga menjadi stresor yang memicu depresi.

Umumnya wanita yang depresi merasa sedih dan tak berguna, hal ini berbeda dengan lelaki yang cenderung merasa sangat lelah, mudah tersinggung serta sulit tidur. Lelaki akan mudah mencari pelampiasan bagi rasa depresinya dengan menjadi doyan minum atau menggunakan obat-obatan terlarang. Tak jarang mereka kemudian berperangai kasar dan tidak peduli. Wanita maupun lelaki sama-sama berpikir untuk bunuh diri, meski kemudian lebih banyak lelaki yang mewujudkan pemikiran ini.

Beberapa tanda dan gejala depresi adalah sebagai berikut:

  • Rasa sedih, gelisah dan bersalah yang berkepanjangan.
  • Perasaan tak berdaya atau pesimis.
  • Perasaan bersalah dan tak berharga.
  • Mudah tersinggung dan tak bisa beristirahat.
  • Kehilangan rasa percaya diri
  • Menghindari bertemu orang, bahkan juga sahabat dekat
  • Kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disenangi.
  • Kelelahan dan berkurangnya energi.
  • Mengalami gangguan tidur  
  • Kesulitan berkonsentrasi, mengingat hal yang mendetil dan mengambil keputusan.
  • Hilang nafsu makan atau makan berlebihan
  • Ide/tindakan bunuh diri, atau cenderung melakukan yang membahayakan diri
  • Nyeri (kepala, sendi, perut, otot) yang tidak hilang dengan pengobatan.
  • Hilangnya gairah seks, bahkan disertai gangguan fungsi seksual
Jika Anda merasa atau mengetahui orang dengan tanda dan gejala di atas, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk dilakukan terapi. Karena kasus depresi yang berat pun dapat ditangani secara efektif. Semakin awal terapi dimulai, hasilnya pun akan semakin baik. Kita juga dapat membantu orang dengan depresi dengan cara:

  • Menyediakan dukungan emosional, pengertian dan dorongan.
  • Mendengarkan dengan seksama apa yang perlu mereka ungkapkan.
  • Jangan pernah menihilkan perasaan mereka, tapi tunjukkanlah kenyataannya dan berikan harapan.
  • Bila mereka bicara tentang bunuh diri, maka hal ini jangan sampai diabaikan. Laporkan pada     dokter.
  •  Ajaklah mereka untuk sekali-kali bergabung dalam aktivitas, meskipun mereka menolak
  •  Bantulah mereka dalam kunjungannya ke dokter.
  • Terus mengingatkan bahwa hanya dengan terapi dan waktulah yang akhirnya akan menghilangkan depresi.

Everything didn’t get better overnight, but it will get better some day, and life become again enjoyable.

Referensi: 
National Institute of Mental Health – Depression Booklet


dr. Gina Anindyajati 
g.anindyajati@angsamerah.com

Angsamerah Clinic
Graha Media Building Lt. 2
Jl. Blora 8-10, Menteng, Jakarta Pusat 10310
+6221-3915189
customer@angsamerah.com
www.angsamerah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar