Tampilkan postingan dengan label Tulisan Sahabat Angsamerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Sahabat Angsamerah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

Memajukan Pedagang Kaki Lima, Jakarta 7 Januari 2014

Jika kita melewati Pasar Tanah Abang setelah 1 September 2013 anda akan merasakan perubahan. Lalu lintas lebih lancar, jalan menjadi lebih bersih karena Pedagang Kaki Lima (PKL) yang semula menempati bahu jalan telah ditertibkan. Mereka ditempatkan di gedung Blok G yang dapat menampung sekitar 900 PKL. Proses penertiban berjalan cukup lancar karena penertiban kali ini dilakukan tanpa kekerasan dan didahului dengan dialog yang cukup lama. Banyak pihak yang memuji pendekatan yang dilakukan terhadap PKL di Tanah Abang dan penertiban ini dinilai cukup berhasil. Bahkan beberapa kota lain di Indonesia yang juga mempunyai permasalahan dengan PKL berniat meniru penertiban ini. Namun kunjungan-kunjungan yang dilakukan oleh berbagai pihak secara langsung ke PKL ditempat penampungan mereka, menunjukkan keadaan yang di luar dugaan. Serombongan mahasiswa Universitas Indonesia yang ingin mengetahui keadaan terakhir PKL di Blok G awal November ini mendapatkan bahwa para PKL terutama dilantai 3 dalam keadaan yang amat memprihatinkan. Sekitar 200 kios di lantai 3 sepi pengunjung.


Minggu, 15 Desember 2013

KONDOM, SI MUNGIL YANG BEGITU FENOMENAL

…..dirimu kecil namun elastis…..
   …..bentukmu lucu namun dewasa…..
       …..hadirmu sering dipertentangkan….
          …..sosokmu dicari juga dihindari…..
             …..amanlah bagi yang mengerti…..
                …..resahlah bagi yang menjauhi…..

Sejak kemunculannya, kondom selalu menjadi suatu hal yang fenomenal. Sering kali dijadikan bahan untuk pertentangan. Tanpa disadari permasalahan kondom ini menciptakan 2 kubu yang saling bertentangan. Satu kubu sudah tentu mereka yang mengerti fungsi dan manfaat kondom dari berbagai sisi positif, sedangkan kubu satu lagi adalah orang-orang yang selalu menganggap kondom adalah hal yang tabu dan negatif tanpa pernah mau mencoba untuk memahami fungsinya secara medis, bahkan memvonis kondom sebagai alat untuk melegalkan seks ‘bebas’. 

Rabu, 20 November 2013

STOP BULLYING WARIA Oleh Ryan Hutagalung

Empat penari meliuk-liukkan badannya dengn gemulai dan luwes di atas panggung mengikuti irama lagu yang ceria. Dengan senyum yang tak henti menghiasi wajah-wajah manis keempat penari tersebut, tubuh mereka terus bergerak kesana kemari dengan lincahnya. Sehabis mereka menari penonton pun langsung memberikan tepukan meriah yang diiringi dengan yel-yel menggoda para penari.

“Cantik-cantik banget ya”, celetuk salah seorang penonton, “siapa yang dapat menyangka kalau mereka adalah waria?” lanjutnya.

“Iya ya. Cewek asli saja sampai kalah cantik,” kata yang lain mengomentari. Wah, sama sekali tidak terlintas sedikitpun di pikiranku kalau ternyata keempat penari tersebut adalah waria. Takjub dan kagum memenuhi benakku.

Komunitas waria, setuju atau tidak mereka ada diantara kita. Era tahun 70an hingga 90an waria hanya bisa kita lihat di jalanan sebagai pekerja seks dengan dandanan mencolok dan pakaian seksi. Tak jarang mereka menjadi bahan olok-olokkan masyarakat di sekitarnya.

Selasa, 05 November 2013

ANDAI GAMBAR INI BISA MENAMPILKAN BAU.... Oleh Baby Jim Aditya


Pernahkah Anda membayangkan diri Anda sebagai perempuan miskin, harus mencari uang dengan melacur, ditiduri oleh lelaki-lelaki yang miskin pula? Di bilik sempit kumuh di kolong jembatan, disekat terpal kusam, tubuh Anda dibaringkan telentang di atas papan yang berada di atas comberan, dengan alas sepotong kardus untuk pantat Anda, lalu mereka menumpahkan spermanya begitu saja: buru-buru dan seringkali kasar karena terburu nafsu. Kadang buka baju pun tak sempat, karena tempatnya sempit dan sumpek... Ibaratnya nafsu sudah sampai ke kepala, tinggal menumpahkannya saja di lubang perempuan mana saja....yang penting bayar... 

Rabu, 25 September 2013

Rumput Kita Lebih Hijau kok dari Rumput Tetangga -Motivasi Penerimaan & Optimalisasi Diri

Halo para penikmat hidup!
Perkenalkan aku Dina. Disini aku pengen sharing mengenai kegiatan atau informasi apa aja yang aku tau dan pernah aku ikutin. Tapi dijamin ada manfaatnya, bukan cuma informasi yang masuk kuping kanan terus mental (ga sampe nembus ke kuping kiri loh ini :p). Kebetulan saat ini aku sedang menimba ilmu di Angsamerah, dalam artian aku sedang kerja part time membantu sedikit-sedikit di beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Angsamerah. Another Kebetulan pada bulan Oktober Angsamerah mengadakan workshop dan saya diperbolehkan mengintip kegiatan yang mereka lakukan.

“Motivasi Penerimaan Diri & Optimalisasi Diri”. 
Ooo oh stttt itu bukan judul lagu, itu tema yang dibahas oleh Dr. Nurlan Silitonga dalam workshop yang diadakan di klinik kesayangannya…klinik Angsamerah.

Minggu, 14 Juli 2013

Selayang Pandang - Curiga

Di zaman modern yang penuh dengan persaingan ini, terutama di kota-kota besar, kehidupan terasa berat untuk ditempuh. Ketatnya persaingan hidup & budaya yang mengedepankan materi dapat memicu seseorang merasa stres & tertindas. Orang-orang bisa jadi mempunyai bibit yang bagus dalam melakukan sesuatu. Namun, karena kekurangan yang ada pada dirinya maka ia mudah menjadi down. Akhirnya,ia menderita penyakit eksistensial diri & krisis spiritual. Orang seperti ini mempunyai pengalaman diri yang terfragmentasi, terasing & sarat dengan ketidak bermaknaan hidup.


Orang yang hidupnya sengsara secara emosional & spiritual disebut manusia tindasan. Ada kalanya bawaan sejak kecil atau karena adanya pengalaman yang tidak mengenakkan. Misalnya ia gagal dalam ujian hidup yang diberikan Tuhan kepadanya, ditimpa kematian orang yang dicintai, seringnya mengalami musibah & sebagainya. Orang yang merasa tertindas oleh kondisi, ia menjadi penuh curiga. Apa yang dilakukan orang lain selalu dipandang negatif.

Orang yang merasa tertindas oleh kondisi, ia penuh curiga. Apa yang dilakukan orang lain selalu dipandang negatif. Contoh orang yang selalu penuh curiga menurut pandangan saya adalah orang yang terhalang zero mind process-nya. Kecurigaan akan menghilangkan keikhlasan, sehingga selalu melihat orang lain itu salah.

Sebuah kisah menarik dari saya tentang "Curiga".
courtesy of readmedeadly.com


Pada suatu pagi, diadakan rapat antar departemen disebuah perusahaan. Peserta rapat sedang membicarakan hasil evaluasi rutin bulanan. Salah seorang tiba-tiba menguap di tengah rapat yang sedang berlangsung serius. Peserta lain spontan menoleh ke arahnya. Atasannya yang juga ikut rapat dengan penuh curiga langsung menegur karyawan yang menguap tadi. "Saya kecewa sekali dengan Anda. Anda tampaknya tidak peduli dengan rapat serius ini!" Karyawan itu langsung tertunduk. Wajahnya pucat, ia berkata lirih "Maaf,saya ingin menyampaikan sesuatu. Saya seharusnya tidak bisa ikut rapat ini.Tetapi mengingat rapat ini sangat penting, saya mencoba hadir." Matanya berkaca-kaca. "Anak saya tadi malam mengalami kecelakaan. Saat ini ia sedang dirawat di ruang ICU, di rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Jadi,tadi malam saya tidak bisa tidur. " Semua peserta rapat langsung tertunduk. Bisa dibayangkan betapa malu & tidak enaknya perasaan atasan yang telah menegur tadi. Ia telah terjebak dalam curiga & prasangka negatif. Yang lebih parah dari contoh sang atasan tadi tentu banyak. Orang yang karena pengalaman hidupnya, kecurigaan berlebihan bahkan bisa menimbulkan penyakit jiwa.


Dalam sebuah cerita dari Sumatera Barat dikisahkan ada seorang wanita yang menderita penyakit yang lama tidak sembuh-sembuh. Dalam penderitaannya ditempat tidur tiba-tiba ia merasa orang-orang akan membunuhnya. Setiap sang suami atau anaknya menyediakan bubur ia merasa akan diracun. ‎Ia beranggapan karena sakitnya tidak sembuh-sembuh, barangkali keluarga menganggap dirinya sebagai beban, terutama masalah finansial. Daripada menyusahkan lebih baik "diselesaikan" saja. Padahal di antara keluarganya tidak ada yang beranggapan seperti itu.

Kecurigaan seperti itu tentu sudah amat parah. Wanita tadi sudah sampai pada penyakit jiwa. Padahal sebetulnya, kecurigaan tersebut terbangun atas sikap hidupnya sendiri selama ini yang materialistis. Ia menganggap segala keluarganya akan rugi jika mengeluarkan uang terus-menerus untuk mengobatinya, padahal ia tidak sembuh-sembuh.

Di antara dua sifat curiga yang ekstrem tersebut banyak terjadi di antara kita, terutama yang tinggal di wilayah perkotaan sekarang ini,banyak mengidap penyakit curiga yang berlebihan. Seseorang yang selalu curiga biasanya didasari oleh pengalaman yang kurang baik sebelumnya. Terhadap orang seperti ini,kita harus memberikan perhatian lebih. Karena pengalaman yang diderita orang ini lebih panjang atau lebih tidak baik

Perhatian mengandung arti yang lebih dalam ketimbang sekedar memberikan penjelasan. Perhatian tidak melulu pada sikap atau kejadian yang tengah berlangsung,namun juga hal-hal di luar itu. Terhadap wanita yang sakit di atas, sentuhan kasih sayang akan sangat membantu memulihkan kepercayaannya. Seorang karyawan yang ditegur atasannya yang penuh curiga tadi, apabila tidak memberikan penjelasan yang lebih mendalam belum tentu akan menyadarkan hobi curiga atasannya. Misalnya ia hanya berkata,"Saya tidak tidur semalam sehingga sekarang mengantuk." Tidak banyak atasan atau orang yang mau menghabiskan waktu untuk mengorek lebih dalam, seperti "Mengapa kamu tidak tidur semalam"dan seterusnya. Oleh karena itu, pemberian penjelasan yang menyeluruh sebagai bentuk perhatian kita terhadap orang akan membantu memulihkan kecurigaan tersebut.

Curiga bisa berarti waspada. Namun curiga berlebihan atau berprasangka buruk justru akan membelengu jiwa kita.

Selayang Pandang - Donnie Aswara

Sabtu, 22 Juni 2013

PEREMPUAN of PEREMPUAN by Endang Sukmawati

# Tulisan ini dibuat untuk tidak men-judge hidup orang lain, sekedar berbagi.. Mungkin kita bisa ambil "pelajaran" dari setiap masalah yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari... #

Tulisan ini lagi-lagi terinspirasi dari buku EAT PRAY LOVE-nya Elizabeth Gilbert, kisah hidup seorang PEREMPUAN dalam pergulatan hidup mencari jati dirinya... Kenapa saya tertarik sekali menulis tentang PEREMPUAN ? Jawabannya sederhana sekali, karena saya PEREMPUAN, tidak kurang tidak lebih (dilarang protes buat yang baca) :) 

Banyak teman-teman saya menceritakan kegalauan dan kegundah-gulanaan hidupnya kepada saya, dan saya simpulkan kisah kehidupan teman-teman saya itu seperti roda. Kok seperti roda, maksudnya apa? Hmm... gini ya, tau roda kan ? Roda itu berputar (ya iyalah, terus apa hubungannya). Hubungannya bukan seperti yang sering orang bilang “hidup seperti roda, ada saat di bawah, ada saat di atas”, it is ‘not kind of’ roda yang saya maksud di sini. Roda di sini maksudnya adalah seperti kita mengalami masalah xxx di umur 20 tahunan, and well, di umur 41 tahun kita mengalami masalah xxx ini lagi. Jadi hidup itu seperti roda karena berulang-ulang kita akan mengalami masalah itu di rentang usia berapa pun.  Tapi benang merah dari masalah-masalah yang terulang seperti roda itu, menurut logika sederhana saya, adalah bahwa masalah itu seperti ujian alias tes. Ujian diberikan kepada kita agar kita lulus dan bisa naik kelas. Jika pada usia tertentu kita diberi masalah/ ujian tertentu dan tidak lulus, maka masalah / ujian  itu akan terus menghantui kita sampai kita dianggap lulus dalam masalah /  ujian itu. Are we on this with me ? :) 

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita dianggap lulus ? Oleh siapa kita dianggap lulus ?      

Kita dianggap lulus, mungkin, ini menurut pendapat pribadi saya lho, adalah ketika masalah yang sama menghampiri kita lagi,  namun kita lebih siap menghadapinya dan akhirnya kita bisa memutuskan dengan pertimbangan matang alias siap dengan segala konsekuensinya, sehingga kita tidak terlalu pusing dan kalap akibat masalah ini. Pusing, galau, bête,  sah-sah saja jika menghadapi masalah itu, namun keputusan bisa diambil dengan kepala dingin sehingga pelan-pelan masalah teratasi dengan waktu yang berjalan.    

Oleh siapa kita dianggap lulus? 

Nha, ini pertanyaan yang saya juga masih mencari-cari jawabannya. Kalau menurut logika sederhana saya, kita dianggap lulus ujian bagi orang-orang di sekeliling kita, dengan mereka melihat  kita seakan-akan tidak punya masalah. Bagaimana ? Ya mungkin mereka melihat penampilan kita yang cerah ceria, segar tanpa beban. Padahal di balik apa yang kita tampilkan dengankeceriaan itu membutuhkan suatu kemampuan luar biasa untuk menyembunyikan kepedihan hidup atas masalah kita kepada orang lain. 

Masalah ada dalam diri kita, diri siapa saja,  namun kedewasaan dan kematangan kita (karena telah melewati tahapan ujian sebelumnya) menjadikan kita siap menghadapi masalah yang datang, dan bisa menampilkan yang terbaik dari kita kepada orang lain. Dan bukankah lebih baik bila kita sharemasalah kita kepada orang yang tepat, yang bisa memberikan support untuk kita terus melangkah daripada mengeluh dan mengaduh atas ujian yang kita hadapi ini kepada siapa saja? Karena, menurut saya, orang-orang ini bukan peduli terhadap masalah kita, tapi hanya penasaran...  Bukan begitu bukan ??? *blushing*:) 

Kemudian, logika saya berkembang lagi, again, ini dari kacamata saya, kita dianggap lulus atas masalah tertentu oleh YANG MAHA PUNYA SEGALA adalah dengan BELIAU memberikan masalah kepada kita yang lebih rumit/pelik/complicated  dari masalah sebelumnya yang kita alami. Misalnya begini lho, waktu kita TK diberikan soal matematika 1 +1 = 2, kita jawab dengan mudah soal itu, dan kita naik kelas ke tingkat SD. Ketika kita di SD soal matematika kita adalah 25 x 65 : 15 + 55 – 40, kita jawab sekian dan luluslah kita dari SD. Lanjut ke SMP, SMA, Perguruan Tinggi, soal matematika yang diberikan bertambah pula kerumitannya sampai kita menguasai alias lulus dalam hitung-hitungan Matematika ini.  

Untuk sekolah yang bernama kehidupan ini, Tuhan berikan ujian kehidupan kepada kita berupa masalah yang bermacam-macam jenisnya/wujudnya, dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, rumah tangga, usaha, pekerjaan, asmara dsb dst etc. Lagi-lagi yang saya amati, sepanjang saya bernafas di dunia dan mulai mencari arti diri saya dalam hidup ini adalah bahwa setiap dari kita diberi masalah yang berbeda-beda jenis dan bentuknya, tingkat kesulitannya pun berbeda-beda sesuai kapasitas kemampuan yang BELIAU anugerahkan kepada kita.  

HOW COME ??? 

Tulisan ini saya buat terinspirasi dari curhat sahabat baik saya yang memasuki usianya yang ke 41 tahun yang masih menangis tersedu-sedu kepada saya karena harus memutuskan hubungan dengan “kekasih”nya. Sudah empat atau lima bulan ini intensitas komunikasi kami kuat sekali, di mana  ia menceritakan kesedihan dan kegundah-gulanaannya ini kepada saya.  Sahabat saya ini berstatus menikah dan memiliki seorang anak.  Menurutnya, kesalahan hidup yang dibuatnya adalah ketika berumur 29 tahun dia memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang hanya dikenalnya selama 6 bulan. Dalam kurun waktu tersebut, ia tidak mengenal cukup baik calon pasangan hidupnya, namun tetap memutuskan menikah kerena dikejar usia dan pelarian dari patah hati sebelumnya.  Saya sering dengar ungkapan seperti ini, “...carilah orang yang tidak hanya mengubah statusmu, tapi bisa mengubah hidupmu (menjadi lebih baik)..”  Well, mungkin ungkapan ini tepat sekali menggambarkan dirinya. Di awal pernikahannya, sahabat saya ini mengubah dirinya menjadi sosok seperti yang diinginkan suaminya. Lama-lama terasa berat karena memang sulit untuk terus-terusan memakai topeng, meskipun topeng itu dipakai di rumah sendiri (#miris#). 

 Akhirnya ia lepaskan topengnya dan menjadi dirinya sendiri, dengan berani melawan ketidak-setujuannya atas perlakuan  suaminya. Sahabat saya tersebut mengalami KDRT psikis dalam rumah tangganya dan memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai namun tidak diijinkan suaminya karena ikatan agama yang mengharuskan mereka bersatu, till death do them part.  Well, kalau sudah begini, mau apa lagi ya ??? Singkat kata, sahabat saya menjalin affair dengan kekasih lamanya yang juga sudah berkeluarga. Selama 3,5 tahun belakangan ini ia merasa hidupnya lebih berwarna dengan kehadiran kekasih masa lalunya. Namun, hubungan ini akhirnya tercium oleh keluarga kekasih sahabat saya tersebut. Cerita klasik, si kekasih memutuskan sahabat saya for the sake of his family.  Perlu dicatat, bahwa sahabat saya memiliki karir yang sangat baik dengan gaji dan fasilitas yang oke banget di perusahaan tempatnya bekerja, jadi tidak unsur "transaksi uang" dengan kekasihnya. 

Selain hubungan personal sahabat saya dan kekasihnya itu, mereka juga mengadakan kerjasama usaha dari network sahabat saya dan usahanya tersebut bisa memberikan tambahan income yang cukup memadai bagi kedua belah pihak. Saat ini, sahabat saya sedang galau-galaunya, don’t know what to do with her life. Dalam 4 bulan ini sudah 3 perusahaan / kantor yang ia masuki (pindah-pindah) karena begini, karena begitu, akibat kehampaan hidupnya setelah affair-nya berakhir. Dari berkali-kali kami berkomunikasi, saya bisa simpulkan 2 masalah besar dalam hidupnya, yaitu masalah personal dan masalah pekerjaan.

Untuk masalah personal alias kehampaan hatinya, terlepas dari ia masih memiliki ikatan resmi dengan suaminya, saya tanyakan kepadanya apakah ia masih mau meneruskan hubungannya dengan kekasihnya atau mencari kekasih baru (karena suaminya tidak mau menceraikannya). Jika ia memilih kembali kepada kekasihnya, ia harus menjalankannya dengan kehati-hatian dan limitasi yang harus disepakati kedua-belah pihak. Jika ia mencari kekasih baru, well, perlu waktu lagi untuk saling mengenal, mengelola perasaan, mulai dari awal lagi, starting from zero. 

Untuk masalah pekerjaan, saya tanyakan apakah ia akan terus bekerja di perusahaan sekarang dengan sisi baiknya gaji lebih baik dari perusahaan sebelumnya namun pekerjaan tidak ada tantangan, atau kembali ke kantor lamanya yang memberikan ia celah untuk mengembangkan potensi dirinya namun gajinya lebih kecil? Saya berikan opsi-opsi tersebut dengan konsekuensi yang ada, misalnya jika tetap bekerja di kantor sekarang, ia bisa mengembangkan rencananya mengembangkan usaha bisnis on-line yang iacita-citakan.  Jika ia kembali ke kantor lama yang dinamis, waktunya akan tercurah untuk pekerjaan sehingga tidak ada waktu, not even  waktu untuk menjalin hubungan asmara baik dengan kekasihnya atau mencari kekasih baru.

Sampai tulisan ini saya buat, baru tahapan saran ini yang saya berikan kepadanya belum ada keputusan yang ia ambil. Mungkin seiring berjalannya waktu, ia bisa membuat keputusan yang lebih baik bagi hidupnya, bagi anak-anaknya.

Dari cerita di atas, terlepas dari keputusan yang sahabat saya ambil, benar atau salahnya, saya berada pada posisi yang tidak ‘menghakimi’, non-judgemental. Saya ambil peran sebagai pendengar, pemberi masukan/pandangan atas pilihan-pilihan keputusan yang ada berikut konsekuensinya.

Kita lebih sering mengeluh “kenapa hidup gue begini?” ; “kenapa hidup gue begitu?” ; “cerai atau ngga”? ; “pindah kerja atau terus di sini?” dan lain-lain, dan sejenisnya. Kita tidak mempersiapkan diri kita untuk lebih fokus mengambil tindakan untuk memutuskan satu pilihan dari banyaknya alternatif pilihan hidup yang membuat hidup kita lebih complicated / dilematis tersebut. Moreover, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk siap menanggung RESIKO atas pilihan yang kita ambil tersebut.

Contoh nyata lain adalah sahabat lain yang seumur hidupnya galau atas kehidupan pernikahannya, mau cerai atau tidak, mengingat masalah yang ia hadapi dengan pasangannya bertahun-tahun.Well, saya pernah dan sering tanyakan padanya... “kenapa sampe sekarang elo ngga cere juga kalo elo menderita hidup sama laki elo..?” dan sering jawaban yang saya dengar terlontar dari mulutnya...“iya, nanti siapa yang ngasih uang belanja gue, lagian enakan dia kalo cere nanti, dia bisa kawin lagi, gue yang sendirian...”

Dari cerita ini, saya mendesah...”well... well,..katanya hidup menderita, disuruh ambil keputusan, tapi tidak siap konsekuensinya, so.. menderitalah seumur hidupmu..” :) 

Bukan jahat... sumpah demi Tuhan bukan jahat saya dalam hati berkata begitu.... Ya... masalah itu tidak akan selesai kalau kita tidak mau ambil keputusan atas hidup kita itu. Maksud saya, life is choices, pick one and live it with its consequences.

Atas masalah sahabat saya itu, saya definisikan masalahnya yaitu hidup menderita dengan suaminya, pilihan hidup atas masalahnya adalah bercerai atau terus hidup dengannya.
Kalau ia memutuskan cerai, the good side adalah ia bisa lebih bebas, tidak ada tekanan batin, dan lain-lain , plus the bad side-nya pun dia harus ambil juga (karena bagian dari paket cerai tersebut) seperti sendiri lagi, uang belanja dibatasi, kerelaan dirinya jika suaminya menikah lagi (nantinya).

Kalau ia memutuskan tetap bersatu, ya terimalah suaminya “apa adanya”. Dalam hal ini tidak ada pilihan “ada apanya” hehehhe. Sejelek-jeleknya, sebau-baunya, sehitam-hitamnya, seputih-putihnya, take him for what he is and try to adjust her level of conformity untuk hidup bersamanya, untuk tidak selalu kesal terus dengan kelakuan-kelakuan suaminya. 

Either cerai atau tidak cerai, semua butuh perjuangan dan doa. Tidak ada yang enak dan instan di dunia. 

Penerimaan diri atau acceptance, ini yang katanya gampang diucapkan tapi berat sekali dijalankan. Tahapan diri menuju level ‘acceptance’ ini memang sulit, perlu pemahaman akan dunia sekitar (yang terdekat dari keluarga) baru beranjak ke sahabat, lingkungan rumah, lingkungan kantor, lingkungan organisasi, dsb, dunia yang lebih luas (termasuk dunia maya/social network: FB, twitter, heheh) dan terakhir penerimaan akan Tuhan bahwa inilah yang terbaik yang  Tuhan berikan kepada kita selama kita hidup di dunia. 

Jadi,  tidah pernah ada keluhan “Ya Tuhan kenapa ini terjadi padaku?” pada saat kesedihan/kesengsaraan terjadi pada kita. By the way, pernahkah kita bilang ... “Ya Tuhan, kenapa ini terjadi padaku?” ...saat kita sedang mendapat kegembiraan, bonus tahunan dari kantor, proyek yang untung besar dll, dsb :) ? 

And ladies... if you are still single, coba jujur terhadap diri sendiri, apa yang salah dalam diri kita, apakah kita tidak mencintai diri kita sehingga kita selalu bermasalah dengan pacar/kekasih dan kisah cinta tidak berujung ke pelaminan ??? Apakah kita yang di usia sekian ini masih terus singlekarena ada masalah dalam kepribadian kita, kehidupan personal kita yang harus kita selesaikan terlebih dahulu sebelum kita membuka diri kita kepada orang lain, mempelajari dan menerima orang lain dalam hidup kita pada suatu hubungan asmara ???

And ladies, kalau sudah married, sudahkah didefinisikan masalah rumah tangga dengan life-partner alias pasangan hidup? Whether it is financial, love, kids, parents-son-in laws relationshipsproblems ? Kalau sudah teridentifikasi masalahnya, mulailah gali alternatif solusinya, kemudian pikirkan konsekuensi yang timbul akibat pilihan-pilihan itu sehingga kita lebih siap menyikapi masalah yang ada, dan tidak blunder masalahnya, merembet ke mana-mana sehingga membuat hidup lebih complicated. 

So, friends, jadi kita mau terus berkubang di masalah yang sama seumur hidup kita atau hidup damai dalam menyikapi semua masalah hidup kita yang diberikan pasti sesuai kemampuan kita mengatasinya ???

The answers is yours to decide...
with best love
EndangSukmawati

# tulisan ini dibuat hasil renungan diri memasuki usia 41 tahun di bulan Juni 2013, hasil ngobrol-ngobrol dengan teman senasib yang galau belum ketemu jodoh dan yang sudah married tapi masalahnya lebih kompleks :) #

Who is Endang Sukmawati?
A Life Learner and an Entrepreneur
A lady who keeps learning anything from anyone she meets in her life, and being an entrepreneur is a part of her journey of learning things in her life.

Ms. Endang Sukmawati has formally worked in management areas from various company and organizations for the last 15 years. Currently, Ms. Endang Sukmawati is running her own business in partnership with many of her best friends at PT WIDYA KENCANA ARTHA (a consulting firm providing a wide range of consulting and training services in the areas of Management, People Development, organizing events with MICE Concept), at PT WIDYA ARTHA MEDIKA (trading of medical equipment), and at CV WICAKSONO CEMERLANG (general trade and supply).

Senin, 17 Juni 2013

KERETAKU II - Erick

Angin menderu menyapu wajahku
Ketika keretaku berpapasan
Namun aku hanya diam
Keretaku melaju takberarah
Seperti hanya ada satu jalur
Dan keretaku terus melaju
Meninggalkan kenangan bersamamu

Keretaku terus melaju
Menderu, menembus, membelah angin
Teringat kisah cintaku yang lalu
Seolah tidak ada stasiun di hatiku
Pemberhentian keretaku

Dan peron-peron kosong dihatiku
Tetap ku tutup menunggu keretaku
Entah dimana
Entah kapan
Keretaku sampai di stasiun jiwaku

Dan kau tidak merasa bersalah
Membiarkan keretaku berlalu kosong
Membiarkan aku memanggul bebanku
Tanpa laju keretaku
Aku tidak menemukan stasiun hatimu
Dan kau biarkan peron itu kosong
Tanpa gerbong keretamu

Takdir tidak melakukan pembelaan
Kamu terus menyalahkan dia
Seolah kamu sudah berhenti di satu peron
Seolah mesin tidak sanggup menyala
Keretamu berhenti
Tanpa kamu tau
Keretaku ada dibelakangmu
Mendorong cintamu kembali bersemi
Namun keretamu sudah tak berdaya
Gerbong hatimu sudah kosong

Aku tak berdaya
Menghidupkan mesin cintamu
Dan aku pergi
Meninggalkan gerbong cintamu
Menelusuri peron-peron hidupku
Sekali lagi aku menoleh
Air mataku menetes
Gerbongmu sudah kosong
Peronmu sudah kosong
Aku pergi menjauh
Dengan perih dihatiku

Bersama kenangan dirimu
Dan keretaku terus melaju
Berderit, gemerisik meninggalkanmu
Aku pasrah dalam hasratku
Keretaku sudah terarah
Dan meninggalkanmu
Bersama pedih hatiku
Jiwaku bersamamu
Wahai keretaku

By:ErIcK












Rabu, 12 Juni 2013

HAKIKAT CINTA oleh Kendy Ali Irawan

Di pagi hari yang indah, sejenak ku termagu dibalkon rumah, Rutinitas yang hampir tida pernah aku tinggalkan, dan bahkan sangat aku nantikan, Yaitu ’terbitnya sang surya dipagi hari, yang slalu tersenyum ceria, dan setia berbagi kehangatannya,,bagi yg mensyukurinya, Sungguh maha sempurna Engkau ya ‘’Allah’’ puji syukur ku pada-Mu, Begitu lengkap kau ciptakan hiasan untuk mengisi alam, dan senanatiasa menemani siang dan malamku,, Yg hidup dalam cengkraman kesunyian dan kesepian, Hanya engkau dan mamahku, yang selalu setia menemaniku, serta beberapa ciptaanmu, matahari, rembulan,dan bintang-bintang yang membuat mataku ta pernah lelah untuk memandanginya, dan membuatku kagum akan segala ciptaan-Mu.
 pagi itu aku dikagetkan dengan sentuhan tangan yang tak asing lagi buatku, tangannya  yang lembut, meskipun sedikit mulai keriput, yang tak lain tangan mamahku sendiri,
  "Ada apa nak,,,?" Sapanya yang manja menyesusul tangannya yang lebih dulu hinggap di pipiku.
   "Enggak mah, aku Cuma merasa tenang aja berada disini,, Ya walaupun terkadang tempat ini, seringkali membuat air mataku mengalir".
   "Kamu kangen sama mereka ya…?"
   "Sudah lah nak’ jangan pernah mengingat mereka lagi, biarkan mereka tenang disana,, Mamah tau begitu sulit melupakan kedua kakamu, yang sangat   menyayangimu"
   "Apalagi ayahmu yang menumpukan sejuta harapan untukmu,".

Yah dulu kami keluarga yang bahagia, kami sering berkumpul di balkon rumah kami, Meskipun rumah kami terpencil, terpisahkan hamparan  kebun kelapa sawit, yang merenggangkan jarak rumah kami dengan rumah tetangga. Namun rumah kami tak pernah sepi, kakak perempuanku, Defita sari ardiansyah, yang selalu sibuk menyiapkan makanan dan minuman dikala kami berkumpul. Sedangkan kak  Ardian dwi ardiansyah, aku dan almarhum ayahku, Muhammad sidik ardiansyah, mengisi kesibukan dengan main kartu. Kini mereka telah pergi meninggalkan kami berdua. Mereka kecelakaan maut dalam perjalanan menuju rumah  persalinan, di kota Palembang, atas rujukan dokter dan perawat, dari kayu agung tempat tinggal kami. Bukan hanya kedua kakaku dan ayahku saja yang meninggal karma kecelakaan tersebut, melainkan bayi dalam kandungan kak Defi, beserta suaminya pun, kak Vio ikut dalam kecelakaan maut tersebut. Entah apa yang Tuhan rencanakan,, pas kejadian itu kebetulan mamah tida ikut karna beliau baru pulang dari rumah sakit, karna penyakit jantungnya yang kambuh, dan kebetulan aku yang disuruh nemenin mamah sama kak Ardian. Namun aku meyakini di balik semua kejadian ini ada kebaikan buat kami yang ditinggalkan, RAHASIA DI BALIK RAHASIA.
Meskipun kasih sayang masih dapat aku rasakan, dari mamahku yang sengaja Tuhan sisakan untuk menjagaku, namun semua itu tidak mampu memenuhi ruang hatiku yang kosong. Dahaga kehausan akan kasih sayang. Hari-hariku selalu dikuntit akan kegelisahan hinngga akhirnya aku beranikan diri untuk mengungkapakan bisikan hatiku yang jauh dalam ruang sepi sanubariku.
    "Mah..maafkan aku sebelumnya jika sekiranya apa yang Willy ucapkan akan membuat mamah kecewa..."
    "Apapun yang akan kau katakan, mamah siap mendengarkan, karena mamah yakin anak mamak yang satu ini tidak akan membuat mamah kecewa" kata mamah pelan.
    "Mah boleh gak Willy ikut teman merantau ke Jakarta?". akhirnya kata-kata yang selama ini ku pendam pun keluar juga dari mulutku.
    "nak, kalau ngomong itu mukanya jangan di tekuk gitu. Coba liat muka mamah.." sahut mama pelan.
Meskipun berat ku paksasakan mukaku menatap wajah mama, tidak satu katapun yang keluar dari mulut beliau, hanya sedikit senyuman yang tak lama kemudian langsung memeluk ku.
   "Maafkan aku mah, itupun kalau mamah mengijinkan, jika tidak, akupun tidak akan pernah menginjak kan kakiku keluar dari rumah ini. aku janji mah." ucapku lirih di pelukannya.
Aku ucapkan itu karena aku yakin diam dalam tangisnya adalah ketidakrelaan beliau untuk ku tinggalkan.
    "Jangan berpikir mamah akan melarangmu nak, tidak ada seorang ibu pun yang sanggup melihat anaknya idup kesepian dalam kesendirian" jawab mama yang seakan tahu kalau aku merasa kesepian disini, di rumah.
   "Kini kamu sudah c ukup dewasa nak, mamah tidak akan ragu lagi padamu, pergilah nak, cari kehidupanmu sendiri. Doa mamah pasti akan slalu menyertaimu" lanjut ucap mama sambil mengelus pundak ku.
   "Jangan pikirkian mamah, mamah akan minta bibimu untuk tinggal disni bersama mamah. jawab mama seakan beliau tahu kalau akau tidak tega meninggalkannya dalam kesendirian.
   "Tapi ingat nak, mamah punya satu permintaan...."
   "Apa mah...?" sahutku.
   "Pastinya bukan emas monas nak!" ucap mamah ku berusaha menghentikan tangisan ku dengan candanya.... tangis kami pun berubah jadi tawa meski pipi kami masih basah dengan linangan air mata.
    "Mamah bisa aja, ya iyalah gamungkin willy bawa emas monas, yang ada willy malah dikejar ondel-ondel..."
    "hahah... bisa aja kamuWill" tawa mama.
Kami pun larut dalam canda sejenak melupakan kesedihan yang ada.
    "Terus apa mah...?" ku ulangi pertanyaan yang sama.
    "Pinta mamah hanya satu, bawakan mamah ibu bagi anak-anakmu  kelak.." jawab mamah singkat.
    "Iya mah, Willy janji...." Jawab ku, meski jauh di dalam hatiku ada sedikt keraguan untuk menepatinya.

Singkat cerita...

Aku pun pergi meninggalkan mamah dan kampung halamanku, bersama Burhan, Teman sekolahku dari SD sampai SMA. Dia sudah satu tahun berada di Jakarta, jadi aku tidak ragu atau takut ikut bersamanya.
Setiba di Jakarta akupun tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan. Hari senin, tepatnya tanggal 1 Februari 2010, akupun di panggil HRD salah satu Bank Swasta terkemuka di Jakarta untuk interview. Burhan mengantarku tepat di depa ruang kerjanya, kebetulan Burhan juga bekerja di kantot itu.
   "Berdoa dulu Will" ucap sahabatku memberi dukungan.
   "Yah... Mudah-mudahan di terima ya Bur"
   "Iya, amiiinnnn... aku yakin kok kamu pasti di terima. Yang penting kamu jangan grogi pas tes nanti" tambahnya, sambil menepuk pundak ku.
   "O ya bur tunggu, yang akan ku hadapi Islam kan orangnya" tanyaku pada Burhan, yang masih saja ada rasa ragu dan kaku untuk masuk ke dalam.
   "Iyaaa. udah masuk sana.. gak usah takut, HRD nya gak galak kok." tambahnya meyakinkan aku.
Namun tetap detak jantungku masih saja tak beraturan, secara ini kali pertama aku menghadap calon atasanku. Bismillah, aku masuk, perlahan ku buka pintu.
   "Assalamualaikum....? salam yang ku ucapkan dengan nada sedikit bergetar.
   "Waalaikumsalam..."Jawab tegas seseorang yang duduk di bangku tanpa membalikkan wajahnya.
   "Selamat siang pak.." tambahku, dengan harapan dia menoleh kepadaku.
   "Selamat siang juga.." jawabnya sembari memutar duduknya melihat ke arahku.
Subhanallah, begitu sempurna Engkau menciptakan rupa orang yang di hadapanku. Ucapku lirih di hati. Baru kali ini aku melihat laki-laki setampan dia. Ketampanannya seakan memaku kedua kakiku hingga tak mampu untuk melangkah. Aku terdim, Dia pun terdiam.
   "Kamu Willy Ardiansyah?" Tanya nya memecah keheningan diantara kami.
   "Iya pak"
   "Namamu ternyata setampan wajahmu Willy. Kamu gak pantes kerja disni. Pantasmya kamu jadi model atau artis Will" celotehnya padaku yang masih bengong melihatnya.
    "Ah.. bapak bisa saja" jawabku singkat. Gantengan juga bapak, ucapku dalam hati.
    "O ya... kenapa berdiri saja, silakan duduk."
Wow, bukan hanya wajahnya yang tampan, tapi juga hatinya. Sangat ramah dan sopan, jauh seperti yang sempat aku bayangkan. akupun  duduk tpat dihadapannya.
   "Santai saja Will... Perkenalkan Nama saya Sonny Jeverson." sambil mengulurkan tangannya, halus dan lembut.
   "Iya pak saya sudah tahu.." Jawabku
   "Loh.. tahu dari siapa?" tanyanya sambil tersenyum kepadaku.
   "Dari ini pak.." sambil ku pegang papan nama di meja kerjanya.
   "Astaghfirullah,,, iya yah!!!" sambil  menepuk keningnya. Mukanya langsung memerah, tersipu malu karena salah tingkahnya.
   "Ya udah, hari ini kamu udah bisa langsung masuk kerja. Nanti biar Burhan yang kasih tahu tempat kerja mu." sambungnya.
   "Iya pak, terimakasih." sambil berdiri ku ulurkan tangan kepada nya.
   "semoga kamu betah ya will.." ucapnya dengan tangan masih melekat di tangan ku. Dan tangan kirinya pun seakan memberikan dukungan dengan menepuk pundak kanan ku.
   "amin.... mudah-mudahan.. ya sudah saya permisi dulu pak."
Akupun beranjak meninggalakan ruang kerja pak Sonny, belum sempat aku menutup pintu, pak Sonny pun memanggilku lagi denganpanggilan yang singkat.
  "Will"
  "Iya, ada apa lagi pak?" kuperlebar lagi ruas pintu yang hampir tertutup.
  "Nanti siang kamu makan dimana Will?"
   "Kurang tahu pak, mungkin saya ikut Burhan dulu pak."
   "Kalau begitu nanti siang ikut saya saja, nanti biar saya saja nyamperin ke ruang kerja kamu."
   "Tidak usah pak, tidak enak dengan karyawan yang lain" mungkin itu yang seharusnya aku ucapkan.
   "Iya pak, saya tunggu..." jawabku, lagi lagi bibirku berhasil mengalahkan pikiranku.
Burhan pun ternyata sudah menunggu ku di luar,
    "Will ayo aku antar kemeja kerja kamu". kata burhan sambil menggandeng tanganku tanpa bertanya diterima apa tidaknya, mungkin dia sudah tahu dar pak Sonny.
     "Suit-suit haaaayy...... Burhan siapa tuh? kenalin dong!!" suara perempuan yang bersautan dan bergantian memberikan senyuman padaku, aku pun balas dengan senyuman dengan sedikit menganggukkan kepala ku.
     "Enak aja loe ini milik gue" jawab burhan sambil memeluk ku.
     "Jangan coba-coba ya...!" canda burhan membalasa perkataan gadis-gadis yang kulintasi di ruang kerja itu.
     "Huuhhhh,,, emang loe lebay...." cemooh cewek-cewek itu ke Burhan
     "Hati-hati mas, Dia Jeruk makan jeruk..." tambah seorang cewek yang lain kepadaku.
     "Weewwww..." balas Burhan sinis.
Aku pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar celoteh mereka.
     'Nah ini meja kamu will" Burhan menunjuk meja kerjaku.
Akupun langsung kerja dan alhamdulillah langsung memahami semua tugasku tanpa harus menyita banyak waktu Burhan untuk mengajariku.
Aku merasa happy dengan pekerjaan ku sebagai verifikator, entah angin apa yang mengajakku untuk menoleh kesebelah kanan, ternyata angin itu seakan memberitahu ku ada seseorang yang sedang memperhatikan ku. Ternyata benar ada gadis cantik yang mentapku, gadis yang lugu tidak bertingkah aneh seperti yang lain. Dia hanya memberikan kan sedikit senyuman untuk ku, aku pun membalasnya dengan senyuman yang sama.

Jam 12 tepat Burhan pun berdiri di hadapan ku, waktunya jam istirahat tiba.
    "Yuk Will makan dulu" ajak Burhan padaku.
    "Kamu duluan aja, nanti aku nyusul" jawab ku yang masih sibuk dengan kerjaanku.
    "Ya udah, aku tunggu di kantin, tapi ingat jangan lama-lama".
    "OK. siap Boss...." jawabku semangat.
Burhan pun beranjak meninggalkan ku.
    "Mbak gak makan?" tiba-tiba saja pertanyaan terlontar dari bibirku tanpa aku rencanakan sebelumnya.
    "Kok mbak sih?" jawabannya,
    "Oh.. maaf aku Willy" tanganku bergerak menyodorkan sendiri tanpa aku perintah. Rasakau yang mengajak ku berkenalkan.
    "Putri Rahmawati" sambil menyambut tanganku.
Belum sempat tanganku terlepas bersalam dengannya, tiba-tiba....
    "Ehermm.." suara seorang laki-laki yang pernah aku dengar. Pak sonny.
Sontak tangan kami pun terlepas,
    "Ayo Will, sudah lama menunggu ya? Maaf saya baru selesai beres-beres berkas kerjaan dimeja."
    "Enggak kok pak.." jawab ku singkat.
    "Put aku duluan ya.." Ucap ku pada Putri.
Aku langsung ikut dengan pak Sonny. Aku diajak makan di restaurant berkelas. ini kali pertama aku makan di restourant mewah.
    "Pak Kenapa tidak makan dikantin saja pak?" tanyaku pada pak Sonny.
    "Rasanya gak pantes aku harus mengajak orang seistimewa kamu di kantin" jawab pak Sonny dengan senyum tipis.
    "Apa Pak....??" Tanyaku dengan sedikit mengernyitkan kening ku.
    "Ohh gak, maksudnya gak pantes aja mengajak anak baru makan di kantin sebagai tanda perkenalan dari atasan.. Eh maksudnya Aku. Apa lagi aku melihat banyak pontensi dalam diri kamu Willy" tambahnya.
    "Owww.... begitu pak." sambil aku angguk kan kepala ku.
    "Berarti semua karyawan baru, bapak pasti mengajak mereka makan disni?"
    "Engga kok, baru kali ini, itu pun kamu Will"
    "Loh kenapa baru saya pak?" tanyaku mulai curiga.
    "Gak tahu Will, perasaan ku beda sama kamu dari pertama aku melihat kamu berdiri di ruang kerjaku."
    "Saya juga merasa heran pak, saya gak biasanya bisa akrab dengan orang yang baru saya kenal."
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Jam sudah menunjuk kan pukul 12:45, waktunya kembali ke kantor. Aklu berusaha mengajak Pak sonny ke kantor, tapi pak sonny malah menahanku sejenak. Dia berusa menenagkan ku untuk tidak usah khawatir terlambat, toh atasannya Dia.
    "O ya Will kalau di luar kantor jangan panggil aku Pak, panggil nama saja. Lagian usia kamu beda 1 tahun  lebih muda dari ku"
    "Siap pak, Eh.. siap Son" jawab ku singkat, walau ada perasaan canggung buatku harus memanggil nama saja ke atasanku. Tapi ya sudah lah ini permintaanya, pikirku waktu itu.

Kedekatan tidak perlu menyita waktu lama,
Rasa pun tak pernah memandang atasan, bawahan dan rekan kerja.
Karena rasa akan tiba pada saatnya, tanpa memohon ijin dan tanpa kita duga.

Aku pun mulai dekat dengan Pak sonny. Bukan hanya dekat tapi hati aku pun mulai merasa tak sanggup jika sedetik pun terlewatkan tanpa melihat wajahnya.
aku bingung akan rasa yang aku miliki, rasa yang terbagi dua, antara Sonny dan Putri. Apa lagi sekarang aku tinggal bersama dengan Sonny. Rasa hormatku pada atasan berubah menjadi akrab menjadi sahabat, Dari sahabat kupikir akan berubah menjadi seoran kakak. Sebagai ganti kedua kakak ku yang telah pergi meninggalkan ku. Namun ternyata semua itu salah besar. aku terperangkap dalam cinta yang dianggap terlarang. Setelah kejadian malam pertama aku di ajak tinggal bersama Sonny, yang tanpa ragu menjamahku, seakan aku sudah menjadi kekasihnya. tidak ada perlawanan yang berarti dariku, aku hanya pasrah, bahkan akupun membalas nya dengan mesra. Tanpa mengingat benar dan salahnya, Dosa apa tidaknya. Apa pantas aku menyalahkannya, apa harus juga aku menyalahkan diriku sendiri, sedangkan kejadian itu terjadi di luar nalarku.
Lebih tak mungkin lagi aku menyalahkan Tuhan, karena aku yakin hanya kebaikan & kebenaran yang akan Dia berikan padaku. Jika ini dianggap suatu keburukan dan kesalahan, ini datangnya dari diriku sendiri. sering aku memohon untuk Engkau (Tuhan) Tunjukkan jalan yang terbaik untukku.
Entah dari mana burhan dan rekan kerjanya tahu akan hubunganku dengan sonny. Sudah tak dianggap aneh lagi buat mereka kalau aku sering jalan bersama.
Terkadang celetingan ocehan yang menyakitkan sudah tidak asing lagi hinggap di telingaku. Terlebih lagi Burhan pernah memaksa membuka baju & celanaku. Aku berusaha menolaknya hingga dia tersungkur ke lantai.
   "Jangan munafik Will, apa bedanya aku sama Sonny, aku yang jelas-jelas sudah menaruh simpati sama kamu sejak dulu. Tapi tak pernah kau perdulikan."
   "Maaf kan aku Bur, kamu harus tahu kalu rasa itu tidak bisa di paksakan, rasaku hanya ada untuk Dia." Ucapku sambil melangkah meninggalkannya.

Hari-hari ku kini serasa sempit, semua seakan jijik melihatku sekarang. Hanya Putri yang masih mau menjadi sahabatku & selalu menjadi penenang di kala aku gundah, tanpa sedikitpun menyinggung hubunganku dengan Sonny.
Suatu hari selepas menerima Gaji  aku menghampiri Putri. Aku pamitan dengannya untuk pulang ke kampung halamanku, karena aku merasa sudah tidak nyaman lagi kerja disini. Aku meminta Putri untuk merahasiakan kepulanganku, sekali pun sama Sonny.
Di bandara Soekarno Hatta, hanya Putri yang menemaniku untuk melepas kepergianku.
   "Kakak tidak balik lagi kensini?" tanyanya sambil berulang-ulang melihat jam tangannya.
    "Kurang tahu Put, liat nanti saja" jawabku ragu.
   "Putri harap kakak kembali lagi kesini..." dengan suara yang mulai memudar.
Dan kudapati Ia meneteskan air mata air mata nya. Panggilan Boardding pesawat tidak memberi waktu untuk kami duduk bersama lebih lama.
   "Dah kak, tuh panggilan pesawat kakak sudah siap." sambil berdiri menantapku ia pun tak mampu lagi membendung air matanya yang tepat berdiri di hadapanku.
   "Maafkan kakak ya Put" Aku pun langsung memeluknya.
   "Sebenarnya kakak sayang sama kamu sejak pertama kali kakak melihat mu. Tapi entah kenapa kakak baru berani mengungkapkannya sekarang, setelah kakak merasakan cinta yang salah. sekali lagi maafkan kakak" tambahku.
   "Tidak kak, tidak ada yanag salah dengan cinta. Karena cinta terlahir dari rasa yang tak mungkin kita mampu untuk melawannya.
   "Asal kaka tahu, sebenarnya Putri juga memiliki rasa yang sama. Itulah salah satu alasan kenapa aku masih menghargai & menghormati kakak. karena aku tak mampu berbuat apa meskipun aku merasa sakit saat melihat kakak bersama Pak Sonny."
   "Tapi akan lebih menyakitkan kalau aku harus jauh dari kakak"

  Ketenangan jiwa akan ada apabila orang yang kita sayangi berada di dekat kita.
Meskipun tanpa harus memilikinya dan hanya cukup dengan menatapnya.

Terimakasih Jakarta, Kau telah banyak mengajarkan aku tentang kehidupan.
Kayu Agung, kampung halamanku kini aku kembali kepadamu, begitu aku rindu dengan harumnya tanahmu dan hijaunya hamparan kebun kelapa sawit mu.

   "Assalamualaikum..."
   "Waalaikum salam, Willy anak ku, kapan kamu datang nak?, sama siapa?, mana burhan nak?"
   "kenapa tak mengabari mamah lebih dulu, biar mamah bisa jemput kau nak."
Tak mampu rasanya aku menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari mamah. Aku hanya mampu memeluknya, kulepaskan kata maafku dan rinduku dengan tangisan.
   "Maafkan willy ya mah,,, maafkan Willy"
   "jangankan Emas Monas, apa yang mamah harapkan kan pun Willy tak mampu mewujudkannya"
  'Tak apo lah nak, yang penting engkau pulang dengan selamat, itu sudah lebih cukup bagimamah."
Tak terasa sudah satu minggu aku berada di kampung, tiba-tiba "Kring-kring" HP ku berbunyi, kuliaht layar atas nama Sonny yang memanggil ku. Meski  sedikit ragu, aku pun mengangkatnya.
   "Iya Son, ada apa?" tanya ku.
   "Aku akan menjemput mu ke Palembang" Jawab Sonny.
  "Ngapain....???!!!, besok juga aku berangkat kok." kilah ku.
  "Tidak bisa tidak Will, aku sudah berada di depan rumahmu"
   "Appa????" tanya ku kaget, kaget ku bukan karena dari mana dia tahu alamatku. Karena aku tahu dia memegang alamat lengkap di surat lamaran kerjaku.
 Tapi kenapa dia harus datang kesini, apa yang akan terjadi kalau mamah sampai tahu. Aku pun langsung berlari keluar, langsung menghampirinya.
   "Bodoh kamu Son..!!!, Gimana kalau mamah tahu, matilah kita!!"
   "Tidak mungkin mamah kamu tahu kalau bukan kita yang memberi tahu."
Tiba-tiba mamah keluar dari rumah,
   "Eehhhhhhhhhhhh.... ada tamu, siapa ini nak?" tanya mamah padaku.
   "Ini... ini....."
   "Saya Sonny Tante, atasannya Willy" Jawab Sonny sebelum aku sempat menjawab pertanyaan mamah.
  "Oww... atasan Willy, ya udah silakan masuk nak. Jangan panggil tante, panggil mamah aja, anggap saja rumah sendiri."
Begitu bangganya mamah  sama Sonny, dan langsung menggandeng tangannya masuk kerumah. Tanpa peduli dengan anaknya sendiri, dan membiarkan kan ku menatap semua kekeliruan ini. Sonny pun hanya tersenyum menoleh kepadaku sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mamahku sibuk dengan menyiapkan hidangan yang beragam untuk Sonny, kekasihku, cintaku. Yang mamah anggap sebagai atasan bijak yang peduli dengan bawahannya, hingga Ia relakan jemput bawahannya, yang tak mungkin di lakukan atasan lain, mungkin itu yang ada di pikiran mamah ku.
Sonny pun bermalam di rumahku, Ia melepaskan rasa rindu nya kepadaku, begitu juga denganku.Maaf kan aku mah, kubawa kebohonganku ke hadapan mu, maafkan juga kamarku, kau telah menjadi saksi bisu pertempuran dua insan yang saling mencintai, yang bersembunyi di balik hubungan atasan dan bawahan.

Pagi hari jam 6:30 aku siap-siap kembali ke Jakarta, tidak perlu waktu lama aku untuk memacking baju, karena sudah aku persiapkan dari kemarin. Aku pun berpamitan untuk kedua kalinya, Dulu dan sekarang. 
   "Willy pamit dulu ya mah, jaga diri baik-baik ya mah."
Sonny pun meniru apa yang aku lakukan sama mamah, cium tangan & memeluknya seakan dia sudah kenal lama dengan mamahku. Belum sempat kakiku melangkah keluar pintu rumah, tiba-tiba HP mamah berbunyi "Kring-kring".
  "Tunggu nak" mamah menahanku untuk melangkah.
  "Sapo nih" tanya mamahku sama orang yang menelphone di sebrang sana.
  "Apo kabar nak Burhan, Apo kau tak balik bareng Willy?. Ternyata yang menelphone adlah Burhan.
Mamah asik berbincang dengan Burhan, namun tidak buat ku dan Sonny. Jantungku berdebar saat mamah menyebut nama Burhan. Aku dan Sonny bertoleh bersamaan dengan penuh rasa cemas. Kuperhatikan wajah mamahku yang bersinar karena bahagia berbincang sama Burhan, sekilas sinarnya mulai pudar dan meredup. Bagaia Sang sura yang telah waktunya meneggelamkan diri, membiarkan alam dicekam kegelapan.
   "Apo, ndak mungkin, Kau tak lagi menipuku kan?
Mamahku mematikan HP nya penuh rasa kekecewaan. Tanpa kusadari tangan Sonny pun memegang erat tangan ku, entah saratnya agar aku tenang atau siap mengajak ku lari untuk menghindar dari terkaman macan yang garang, yang siap memangsaku. 
Kali ini benar apa yang ku pikirkan,
   "Apa nih...!!!!" Mamah menepis paksa tangan kami yang erat berpegangan hingga terlepas.
  "jahat kamu Sonny, kau hancurkan anak ku. Kau ajarkan anak ku mengikuti hidup mu yang melenceng keluar dari agama dan norma-norma kehidupan.
  "Plak, Plak, plak....." Berulang kali mamah menampar Sonny.
  "Pergi kau dari sini, jangan ajak anak ku" Usir mamah dengan caci maki kata-kata yang kasar, yang baru kali ini aku mendengarnya dari bibir mamah yang lembut dan penyayang.
Mamah menatap tajam ke arahku yang hanya diam dalam tangis. Apapun yang akan mamah lakukan aku siap, rintihku dalam hati. Namun mamah hanya mengambil koperku dan mengeluarkan semua isinya.
   "Tidak nak sekarang mamah tak akan pernah lagi mengijinkan kamu pergi untuk yang kedua kali." Ucapnya dengan suara tangis  yang memekik di telingaku.
Sonny pun tak menyerah sampai disitu saja Ia pun masuk lagi kerumah dengan mengatakan begitu tulus mencintaiku. Mamah ku bukanya luluh dengan perkataan Sonny yang memelas, melainkan Ia melayangkan Koper kosong tepat menghantam wajahnya. Darah segar pun mengalir dari hidung  Sonny. Tubunhnya sedikit oleng, darah segar yang mengalir dari hidung Sonny tak cukup membayar kekecewaan mamah. Mamah ku pun terus memukuli Sonny.
  "Mah, mah sudahlah mah, tolong hentikan mah. Ini bukan hanya kesalahan Sonny, hukum willy juga mah, Karena Willy juga mencintainya. Aku bersujud dan memeluk kakinya.
  "Apa nak, kau tega. Bukan hanya mamah yang kau kecewakan, tap i juga almarhum ayah mu  juga, yang telah menyimpan setumpuk harapan kepadamu nak."
Tangan kanan nya mengakat ke atas siap menampar wajahku. Tiba-tiba dia berhenti, dan tangan kirinya meraba dada kirinya.Napasnya terengeh-engah menahan rasa sakit karena kekecewaannya.
  "Mah... mah..." Teriak Willy.
  "Maafkan Willy mah, Tolong jangan tinggalkan Willy mah, apa tega mamah meninggalkan Willy?" Ratapku dengan harapan mamah memaafkan ku dan kuat menghadapi penyakit jantungnya.
Sonny pun sama menangis memanggil manggil mamah, meskipun mamah berulang kali memukulnya.
  "Will, Cepat kamu cari bantuan, kamu yang tahu daerah sini, kita bawa mamah ke rumah sakit, biar aku yang jaga mamah disni Will". Sonny membentakku dengan tangis yang tak kalah hebatnya dengan ku.
  "Willy tak usah nak, mamah sudah tidak kuat, sini mamah mohon mendekat" tahan mamahku.
Aku pun kembali duduk di sampingnya.
  "Nak, dulu mama rela melepas kamu karena mamah yakin ada Burhan yang menjagamu, kini mamah pun ikhlas meninggalkanmu, kamu jangan takut sendirian nak, karena mamah yakin ada Sonny yang tulus mencintai mu, yang akan menjagamu."
  "Sonny... apa kamu sayang juga sama mamah nak?"
  "Demi Tuhan mah, Sonny sayang sama mamah" Jawab Sonny.
  "Mamah tidak ragu lagi akan cintamu sama Willy, karena mamah sudah melihat dengan jelas dari air matamu."
  "Sonny, mamah punya satu permintaan sama kamu nak. Dan mamah yakin kamu pasti akan mematuhinya." Lanjut mamah
  "Pasti mah... pasti" Jawab Sonny dengan suara tersegal-segal.
  "Tolong jaga Willy dan cintai dia sepanjang hidupmu. Tapi bukan sebagai kekasih, melainkan cintai dia sebagai adik mu. Jadilah penggati kami yang selalu mencintainya."
Mamah pun menghembuskan napas terakhirnya tanpa memberi waktu Sonny untuk menjawab. Tangis kamipun pecah dalam kepiluan yang teramat sangat.
Setelah lama menunggu tetangga berkumpul karena jarak yang cukup jauh, akhirnya kurang lebih pukul 03:00 kami pun mengantar mamah ke tempat pembaringan tererakhirnya. Tanpa aku duga sama sekali tiba-tiba Burhan dan Putri pun datang ke pemakaman. Mungkin mereka tahu setelah Sonny mengabarkan ke kantor kalau keberangkatan kami di tunda.
Pemakaman telah usai, satu demi satu warga meninggalkan pemakaman hingga tersisa empat orang. Aku, Sonny, Putri dan Burhan.
   "Kak sabar ya, masih ada kami disisi kakak." Ucap Putri.
   "Willy maafkan atas kebodohan ku." Burhan menyusul dengan raut wajah yang penuh rasa bersalah.
Sonny sepontan mengepalkan tangan dan hampir memukul Burhan.
  "Brengsek, Bajingan, Puas loe sekarang !!!" Maki Sonny penuh amarah.
  "Sabar Son.." Aku pun dengan sigap menahan Sonny, untuk menenangkan nya.
  "Tak ada yang perlu disalahkan lagi sekarang, mungkin ini sudah jadi suratan dari-Nya. Sekarang masalah hanya ada pada diri kita bagaimana kedepannya." Tambah Willy
Namun Sonny tak memberi jawaban apapun, hanya isak tangisnya yang terdengar dengan mata tertuju ke nisan mamah.
  "Gimana Son?" Ku lontarkan lagi pertanyaan padanya yang belum sempat Ia jawab.
  "Will, kamu jangan memanggilku dengan sebutan nama ku lagi. Bukan pula Bapak, melainkan panggil aku Kakak sesuai yang mamah amanatkan padaku.
Sonny pun memegang tanganku dan Putri.
  "Will kakak tahu kamu mencintai Putri kan? Begitu juga kamu kan Put? Tanya Sonny padaku dan Putri.
  "Iya Pak," Jawab Putri tersipu malu.
  "Husss.... jangan panggil aku bapak lagi, panggil aku kakak. Karena aku calon kakak iparmu sekarang" dengan sedikit melebarkan bibirnya.
  "Trus kakak?" Tanyaku pada kak Sonny.
  "kakak akan selalu mencintaimu sampai akhir hayatku, tentunya sebagai kakakmu. Tidak akan pernah ada Willy yang lain di hati kakak selain kamu. Sampai Tuhan memepertemukan Putri yang lain untuk kakak. Yang mau menerima kakak apa adanya seperti Putri yang selalu mencintaimu. Meskipun sudah tahuaka jati diri kita yang sebenarnya. Batu nisan menjadi saksi perjanjian kita."
   "Mamah terimakasih atas amanah yang mamah percayakan padaku. Insya'Allah aku akan menjaga amanahmu hingga akhir hayatku." Tambah Kak Sonny sambil mencium nisan mamah ku. Mamah kami.

Rencana-Nya di luar dugaan manusia,
Benar salahnya hanya Tuhan yang berhak menilainya,
Hadapi kehidupan dengan penuh senyuman dan penuh rasa syukur,
Karena hanya Ia yang mampu merubah:
Gelap jadi Terang;
Salah jadi benar;
Musuh jadi saudara;
Hina jadi Mulia,
Karena sesungguhnya Kesempurnaan hanya milik-Nya.

Jangan pernah salahkan kebenaran akan rasa sayang dan cinta,
karena hakikatnya cinta terlahir dari rasa yang di lahirkan dari Sang Maha Pemilik Rasa.

Catatan dari penulis - Kendy Ali Irawan

Teruntuk Keluarga besar Angsamerah, Saya Kendy Irawan Bin Ali mengucapkan terimakasih atas pujian Lentera Hati. Dari situ Saya sebagai kendy Ali Putra, merasa terbangunkan keyakinan untuk membuat lebih dari sekedar puisi, Karena motifasi Ibu Nurlan Silitonga, dan dokter-dokter muda yang lain, tentunya Kak Erik dan abangku Bang Ariston, Kucoba untuk melayangkan CERPEN karya pertamaku. Jujur baru kali ini saya membuat cerita, saya akui saya bukan pujangga yang mampu merubah kata-kata biasa menjadi luar biasa.
dan penghargaanya yang saya terima, atas puisi "
Dengan sangat sedehana saya persembahkan……