Tampilkan postingan dengan label Baby Jim Aditya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baby Jim Aditya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 November 2013

ANDAI GAMBAR INI BISA MENAMPILKAN BAU.... Oleh Baby Jim Aditya


Pernahkah Anda membayangkan diri Anda sebagai perempuan miskin, harus mencari uang dengan melacur, ditiduri oleh lelaki-lelaki yang miskin pula? Di bilik sempit kumuh di kolong jembatan, disekat terpal kusam, tubuh Anda dibaringkan telentang di atas papan yang berada di atas comberan, dengan alas sepotong kardus untuk pantat Anda, lalu mereka menumpahkan spermanya begitu saja: buru-buru dan seringkali kasar karena terburu nafsu. Kadang buka baju pun tak sempat, karena tempatnya sempit dan sumpek... Ibaratnya nafsu sudah sampai ke kepala, tinggal menumpahkannya saja di lubang perempuan mana saja....yang penting bayar... 

Rabu, 04 September 2013

TOKOH AYAH, APA PERANMU MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK-ANAK???

Minggu lalu, saya menghadap promotor disertasi saya, Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Beliau sangat mendukung, dan banyak memberi masukan tentang penelitian saya mengenai harapan dan resilensi pada Narapidana yang Terinfeksi HIV/AIDS.

Kata mas Sarlito, saya harus mengambil juga data tentang masa kecil narasumber, terutama masalah pengasuhan oleh tokoh Ayah. Karena dalam berbagai penelitian beliau tentang teroris, hampir selalu pelaku terorisme adalah orang yang di masa kecilnya mengalami masalah dengan tokoh ayah, baik di neglect (diabaikan) maupun di abuse (dilecehkan, mendapat kekerasan). Karena itu beliau menganggap sangat penting melihat peran tokoh Ayah dalam perkembangan psikodinamika kepribadian para narasumber saya nanti, yaitu narapidana dengan HIV/AIDS, baik yang menjadi residivis maupun yang tidak kembali ke penjara.

Senin, 19 Agustus 2013

AKU TAK BISA IKUT KARNAVAL TUJUH BELAS AGUSTUS...


Gadis kecil itu duduk tertegun. Besok, perayaan 17 Agustus, di sekolahnya ada karnaval. Murid-murid akan berpawai keliling kampung dengan mengenakan pakaian yang sesuai dengan cita-cita mereka. Ia juga ingin sekali ikut karnaval, mengenakan pakaian seragam guru seperti cita-citanya. Kawannya ada yang ingin jadi dokter, tentara, polisi, perawat, dll. Mereka semua telah menyewa pakaian itu untuk pawai. 

Selasa, 13 Agustus 2013

SAYA ANGGOTA IKATAN SUAMI TAKUT ISTRI, (TAPI) MENGAPA SAYA HIV POSITIF?

Lelaki itu bengong menatap kertas hasil tes HIV di depannya. Ia bertanya, mengapa saya bisa HIV positif? Ia (pura-pura) heran, tak habis pikir, atau mungkin tak punya konsep tentang risiko?

Usianya menjelang 60 tahun, beranak 3, bercucu 4 orang. 

Walaupun perutnya sudah mulai membuncit, penampilannya masih lumayan menarik. Ia seorang yang pendiam, agak nyentrik, dan senyum tipis sinis menghiasi bibirnya. Dari balik kacamatanya, tatapannya yang tajam selalu siap menguliti perempuan cantik yang berada di dekatnya. Selama 35 tahun perkawinannya, belum pernah ada satu tahun pun yang dilewatinya tanpa pacaran diam-diam dengan perempuan lain. 


Rabu, 07 Agustus 2013

APAKAH SAYA MASIH MENARIK?? Oleh Baby Jim Aditya

Seorang pria sukses setengah baya, 52 tahun, bertanya, “ Apakah saya masih menarik? Apakah fisik saya masih OK? Apakah cara bicara saya masih menarik? Apakah saya masih punya potensi untuk menarik perhatian perempuan dengan semua yang saya punya? Apa sebenarnya yang dilihat perempuan dari laki-laki? Apakah cewek-cewek itu melihat saya karena sukses dan banyak uang? 

Sebagai mantan atlit yang rajin berolahraga sejak muda, dengan tinggi 173 cm dan berat 70 kg, langsing berotot, perut kempes, dada bidang dan six packs, dengan mudah ia menarik perhatian. Apalagi ia seorang profesional yang sukses, banyak uang dan aset. Tentu ini menjadi magnet tersendiri buat orang yang ingin mencari kenyamanan finansial. Ia baru menyadari dirinya masih menarik setelah ada perempuan lain memujinya, karena selama ini istrinya tidak pernah mengatakan semua kelebihannya itu . Yang ada cuma sederet perintah dan omelan: harus cari uang, menyerahkan seluruh uang kepada istrinya, dan harus nurut pada semua perintah istri. Termasuk tidak boleh keluar rumah selain jam kerja. Istrinya punya segudang mekanisme untuk mengontrol kegiatan suami: menyuruh suami mengantar jemput anak pergi sekolah dan les, minta mengantar belanja ke mall, mengantar ke acara-acara keluarga yang banyak sekali, pergi beribadah bersama-sama, dst… Tiap akhir pekan semakin banyak ritual menanti: beribadah bersama keluarga, olahraga dan bersepeda bersama keluarga, jalan-jalan ke mall bersama keluarga, ritual acara keluarga ke beberapa rumah, panggil tukang pijat ke rumah, panggil montir dari bengkel untuk servis mobil di rumah, membersihkan kolam ikan, dst.

Pria ini mengeluh ingin pisah dari istrinya karena tidak tahan dengan kebisingan mulut istri dan kecurigaan yang dirasa berlebihan. Selama ini ia sudah menyerahkan seluruh penghasilan kepada istri, membantu membiayai pernikahan adik-adik istri, membiayai keluarga istri, sudah berbuat baik tapi istri tetap tidak percaya, tidak pernah mau merekognisi kebaikannya. Boro-boro memuji kebaikannya, menyadari bahwa ia suami yang baik pun, tidak pernah.

 
Yang ada setiap saat hanya kewajiban, kewajiban, kewajiban, disusul dengan curiga, curiga dan curiga. Ia lelah dan bosan. Ia butuh pengakuan dari orang terdekatnya. Dan sekarang, yang paling menghancurkan harga dirinya, ia mengalami IMPOTENSI selama beberapa tahun terakhir ini. Tidak bisa bangun jika dengan istrinya karena menahan marah, bertahun-tahun diperlakukan begini. Sebagai profesional yang sukses, sudah lama ia menahan malu karena diejek teman-temannya sebagai anggota IKATAN SUAMI TAKUT ISTRI. Ia rela disebut begitu karena merasa berkomitmen tinggi pada pernikahan.

Kamis, 25 Juli 2013

EMANG KENAPA, MASALAH BUAT LOE...??! By Baby Jim Aditya

Tahun lalu saya diundang ke Berau dan Pulau Derawan, Kalimantan Timur. Tiba di bandara Balikpapan, seorang teman serombongan, laki-laki usia 37 tahun, melihat saya mendorong troli berisi koper sambil menggendong ransel, berkomentar, "Kok banyak amat, sih, bawaannya, mbak?” Lho, emangnya kenapa? Padahal saya sama sekali tidak minta dia membawakan koper dan ransel ini. Minta dibayarin tiket pun tidak. Minta makan sama dia pun tidak.

Di perjalanan dari Berau ke Pulau Derawan, kami lewat laut selama 2 jam. Kebetulan ombak besar. Saya sangat menikmati perjalanan ini, duduk di bagian belakang speedboat sambil memotret buih ombak dan bagan-bagan nelayan di tengah laut dengan lensa tele. Sementara anak muda yang sok sibuk mengomentari koper saya tadi, duduk di bagian dalam speedboat, pucat pasi mabuk laut, dan akhirnya muntah. Kalau begitu, mengapa tadi sibuk ngurusin urusan orang, bukannya sibuk persiapan menghadapi mabuk laut. Selama beberapa hari di Pulau Derawan pun, ia pun cuma tidur. Kadang ia memancing di dermaga, karena tidak bisa berenang dan takut ombak, sementara saya sibuk tiap hari snorkeling berjam-jam menikmati pemandangan bawah laut yang luar biasa indah. Bahkan sempat mengelilingi pulau-pulau lain di sekitar sana.

Kejadian lain yang mirip, ketika saya menggunakan hair extension alias rambut sambung. Seorang teman perempuan, seumur saya, berkomentar dengan sengit, “Iiiih, rambutnya disambung, ya? Gile banget, ya, rambut kok pake disambung segala, emang nggak panas, tuh?”
Lho, apa masalahnya dengan dia? Wong, saya nggak minta duit dia buat nyambung rambut ini. Saya juga tidak meminta tangannya menyambungkan rambut ini ke kepala saya. Habis bicara sengit dengan ekspresi yang sangat tidak menyenangkan itu, perhatiannya teralih mengomentari hal lain, seolah pendapatnya barusan tidak menimbulkan dampak apapun bagi yang menerima cercaannya. Saya yakin cara bicara sinis dan sengit itu memang bagian dari gaya hidupnya sehari-hari, karena sampai saat ini pun ia selalu berkomentar negatif tentang apapun. Bahkan untuk hal-hal positif pun ia tak bisa memuji. Bisanya cuma mencela. Saya tidak nyaman bicara dengannya. Tak terbayangkan bagaimana rasanya jadi suami atau anaknya. Pasti bawaannya pengen ngaciiir aja…

Mirip dengan ini, saya kenal seorang perempuan, 53 tahun. Ia salah satu panitia dari lembaga yang beberapa kali mengundang saya seminar. Orang ini pipinya dipenuhi flek hitam dan selera berpakaiannya parah. Ia selalu punya komentar untuk apapun yang dia lihat. Dan sudah dapat dipastikan, komentarnya selalu negatif, “Aduuh, susah banget sih menghubungi mbak Baby, telponnya nggak pernah diangkat?”, “Ngapain sih, kok berat-berat bawa laptop segala, untuk apa?” “Lho, kok pulangnya tanggal 5, kenapa nggak tanggal 6?", "Kok pake bajunya warna hitam melulu, emang gak punya warna lain?”, "Kenapa rambutnya dipanjangin, kan lebih seger kalau pendek kayak dulu?"
Iiihh, rempooongg, bangeett… Mending dia urus dirinya sendiri: flek hitam diwajahnya itu, kek, atau belajar kombinasi warna yang nyaman dilihat. Sama seperti kasus lain, setelah bicara sengit pada seseorang, pembicaraan akan segera beralih ke hal lain dengan kualitas sengit yang sama, seolah pembicaraan yang sebelumnya itu tak berbekas pada hati orang yang menerimanya.

Ternyata bukan hanya di kalangan awam saja hal itu saya temui.
Tahun 2010, waktu sudah diterima sebagai mahasiswa program S3, saya harus mempresentasikan proposal disertasi di hadapan penguji. Salah seorang penguji –yang pastinya sudah duluan jadi Doktor - bertanya, “Untuk apa, sih, seorang aktivis AIDS harus kuliah sampai S3? Memang aktivis perlu mengerti macam-macam teori?” Saya membatin, lho, kok nanyanya gitu, ya? Padahal saya sudah lulus Tes Potensi Akademik (TPA), sudah lulus psikotes dan wawancara panjang lebar. Sudah bayar uang kuliah, lagi.... Kalau pun hal itu dianggap pantas ditanyakan, mestinya ditanya waktu saya baru mau mendaftar, bukan setelah saya lulus tes. Bukannya mengapresiasi, bahwa seorang aktivis yang sibuk dalam pelayanan kemanusiaan masih mau kuliah...malah sibuk mencela.
Apa masalahnya buat dia kalau seorang aktivis AIDS mengambil program doktor? Lagi pula, saya, khan, nggak minta duit sama dia buat bayar kuliah, beli buku dan transport. Saya juga tidak minta dia membantu saya menjalani segala macam tes masuk. Saya pun cari beasiswa sendiri dengan prestasi saya dan dengan reputasi saya sendiri. Dalam sepersekian detik, jawaban konyol saya muncul, “Ya, biar pantas aja, mbak.... biar gelarnya pindah dari belakang ke depan.”

Ketika tahu bahwa penelitian disertasi saya adalah tentang Narapidana dengan HIV/AIDS, salah seorang senior juga tak kalah aneh memberi komentar, “Ngapain juga, sih, kamu ngurusin mereka? Emang makna hidup apa lagi, yang mau dicari dari mereka? Udah narapidana, AIDS pula, lagi. Itu mah cuma tinggal nunggu mati aja…” Ya ampuuunn…, kok, loncer bener itu mulut bicara seperti itu? Emang masalah, ya, buat dia, kalau saya meneliti hal itu? Padahal, sekali lagi, saya tidak minta dia membimbing saya. Selain itu, saya pun tidak minta bantuannya untuk membuatkan penelitian itu buat saya, tidak minta pendapat dia, tidak minta uang kuliah dari dia… Bahkan saya yakin dia tidak memahami apa yang dialami oleh para narapidana yang terinfeksi HIV/AIDS. Jangan-jangan malah dia belum pernah ke penjara mengurus pasien narapidana HIV/AIDS. Pantas mulutnya lancang begitu…

Begitulah, dari hari ke hari, sejak saya kecil hingga setua ini, sering kita mendengar (atau bahkan kita juga melakukan) hal itu. Bayangkan jika orang yang menerima ungkapan sengit itu, kemudian memaknai kata-kata itu sebagai sesuatu yang penting, betapa dalamnya rasa sakit yang dirasakan. Belum lagi kalau kita menganut paham ingin selalu menyenangkan hati orang lain, atau terlalu mempertimbangkan apa kata orang.
Banyak kasus yang saya tangani, terkait perselisihan dalam perkawinan, yang tidak bisa menemukan jalan keluarnya hanya karena salah satu atau kedua belah pihak tidak berani mengambil keputusan.

Hubungan perkawinan jadi mengambang dan palsu. Dari luar seolah baik-baik dan rukun, padahal sebenarnya salah satu pihak sangat menderita karena perselingkuhan, penelantaran, kata-kata kasar, atau suka memukul. Seringkali mereka sudah tidak bertegur sapa di dalam rumah, tapi kalau datang ke pesta kawin, ke arisan atau di pengajian, mengenakan topeng sosial seolah-olah rumahtangganya aman tentram. Alasannya, apa kata orang, nanti? Padahal kalau sedang di konseling dan di hypnoterapi, pasien macam ini bisa nangis meraung-raung saking sesaknya penderitaan batin akibat perilaku pasangan yang selingkuh – kadang masih ditambah lagi dengan kecanduan narkoba… Tapi begitu sampai di alam nyata, yang jadi pertimbangannya selalu adalah “APA KATA ORANG?”

Padahal, penderitaan seberat itu hanya dia yang merasakannya, bukan orang-orang yang sibuk memberi komentar sengit, sinis, complain, kepo, dan sebagainya itu.. Padahal, orang-orang kepo itu, setelah memberi komentar sengit pada Anda, akan langsung beralih mengomentari masalah si A, si B, si C… Bahkan mungkin dia pun sudah lupa celetukan apa yang dilontarkannya pada diri kita…sementara kita mungkin tersiksa dengan ucapannya yang sengit dan sinis itu… Namanya juga ORANG KEPO...

Jadi, bila Anda menghadapi komentar atau celetukan apapun, bersikaplah santai saja. Ini hidup Anda sendiri, cita-cita Anda sendiri, jadi harus Anda sendiri yang memperjuangkannya, bukan mereka. Bahkan jika Anda minta tolong pada mereka pun, saya jamin mereka tidak akan membantu Anda (paling memberi komentar lebih sinis lagi, membuat Anda semakin terpuruk lagi). Sepanjang Anda tahu siapa diri Anda, tahu kemampuan diri, dan tahu apa yang ingin Anda capai dalam ini, maju saja terus… Karena orang di sekitar kita biasanya akan selalu komentar. Entah Anda melakukan ini atau itu, benar atau salah, pasti akan SELALU ada komentar. Setelah komentar, dia segera akan berpindah mengomentari urusan lain dengan sifat kepo yang sama. Kebanyakan komentar negatif, pula, hingga jika Anda mendengarkannya, hidup Anda bisa terhambat. Bilang saja dalam hati, EMANG KENAPA, MASALAH BUAT LOE?!
Kalau Anda terlalu banyak menghiraukan pendapat negatif seperti itu, jangan-jangan Anda nanti akan terdampar di depan saya, sebagai pasien saya….

Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis & Certified Grafolog
Klinik Angsamerah-telp 021-391-5189.
www.angsamerah.com
www.babyjimaditya.com

Kamis, 18 Juli 2013

KOMUNIKASI KITA DAN ANAK: MENGAPA SERING BERMASALAH? By Baby Jim Aditya

Kemarin siang saya ikut nebeng mobil teman, seorang ibu berusia 46 tahun. Di daerah Kebayoran, ia menjemput putranya, murid kelas II SMA dan kemudian anak ini mengambil alih kemudi.

Tujuan kami ke Pancoran. Anak ini dengan sigap mengambil jalan pintas di suatu tempat menuju Tendean. Niatnya tentu baik, menghindari kemacetan yang muncul lebih awal pada hari-hari di bulan puasa ini. Begitu masuk jalan itu, ibunya komentar, “Mas, kok lewat sini? Emangnya tau jalannya? Ntar nyasar, lho” Anaknya berkomentar dengan malas, “udah, tenang aja, saya sering lewat sini, kok. Ada teman yang tinggal dekat sini.” Memang nampaknya perjalanan akan lancar karena jalan ini relatif sepi.

Baru sekitar 200 meter melaju, jalan mulai tersendat. Ternyata jalan ini mengecil, hanya cukup untuk satu mobil, melewati jembatan di atas sungai di perkampungan padat. Di sisi kanan kiri berderet pedagang makanan buka puasa: tukang jual gorengan, es buah, jus, bakso, aneka lauk pauk yang dikerumuni lalat karena dibiarkan terbuka. Ramai sekali orang mengelilingi penjual makanan itu. Tiba-tiba ada orang berteriak, “Gak bisa maju, ada panggung, ayo balik saja.”
Tentu saja suasana menjadi gaduh. Tidak mungkin mobil memutar, karena jalanan sangat sempit dan ramai.
Semua orang berteriak memandu agar mobil-mobil dan motor-motor tidak melanjutkan perjalanan. Bagi motor-motor, relatif lebih mudah untuk memutar dan berbalik. Tapi mobil sebesar Innova ini tentu harus super repot mundur sejauh 200 meter, dengan kondisi jalan sempit, penuh sesak oleh kerumunan orang, sepeda motor dan pedagang di kanan kiri.

Sudah dapat diduga, teman saya ngomel-ngomel karena menganggap anaknya sok tahu memilih jalan itu. Terjadi perdebatan sengit karena anaknya juga tidak terima disalahkan. “Khan Mama udah bilang, jangan lewat sini, kenapa kamu terusin? Anaknya jadi kesal karena ia juga tidak tahu bahwa di bulan puasa, jalan ini dipadati penjual. Apalagi ia juga tidak tahu kalau di depan ada panggung. “Ya, saya mana tahu kalau ramai begini. Biasanya sepi aja, kok. Udah donk jangan nyalahin saya terus, saya stress nih.”

Dikomandoi banyak orang untuk mundur, dapat dibayangkan betapa stress nya anak muda ini harus memundurkan mobil dalam gang yang super padat. Ia harus bolak-balik maju mundur. Ibunya juga ikut stress, setiap detik mulutnya mengomel’ “Ayo, mas, terus, terus, terus, balas kiri dikit. Awas, ada gerobak. Awas ada orang…awas…ada motor di kanan…awas nyenggol….awas spion…Aduhhh…hati-hati, donk, mas. Itu khan ada motor, masak nggak kelihatan…, dst, dst…”
Anak muda ini, yang sudah stess sejak tadi, semakin tertekan dengan teriakan orang-orang yang jadi pemandu dadakan, semakin stress dengan panduan dan omelan ibunya, “Udah, udah, donk…Jangan pada ngomong semua…saya juga ngerti…saya juga stress, tau nggak?” Suasana di dalam mobil tegang. Saya paham anak ini pasti dobel stress, mungkin malah triple stress karena tekanan dari orang-orang yang sok jadi pemandu tapi berbeda-beda panduannya. Stress karena panduan ibunya dibarengi omelan menyalahkan dirinya. Stress karena harus menahan marah karena ada saya dan satu orang lagi teman ibunya di dalam mobil.

Saya diam saja. Suasana sangat tidak enak. Anak ini sebenarnya anak baik, cukup kreatif dan cerdas, tapi tidak ada yang mengapresiasi. Saya cuma bisa nyeletuk sambil mengelus punggungnya, “Iya, mas tadinya, khan, niat baik, ya, biar kita nggak kena macet…Siapa yang tahu, ya, kalau di dalam ada keramaian begini?” Dia agak tenang, tersenyum, “Iya, Tante, saya juga nggak tahu kalo rame begini”

Setelah 10 menit yang menegangkan dan penuh suara perintah dari luar dan dalam mobil, kami tiba di jalan yang membelah dua, sehingga bisa memutar. Keringat sudah bercucuran di dahinya. Kami berucap, Alhamdulillah. Saya mencoba mengapresiasinya, “Wah, hebat, mas, luar biasa… Susah banget lho mundur sejauh itu…mana padat begini, lagi…” Ibunya yang dari tadi ngomel, diam saja, sama sekali tidak memberi apresiasi atau apapun kepada anak ini.

Tiba di jalan yang agak lengang, sekitar 2 menit setelah keluar dari suasana itu, tiba-tiba ia mengerem mendadak. Rupanya ada sepeda motor di depannya yang secara tak sengaja jadi tertabrak olehnya. Pengendaranya berhenti, marah-marah, minta dia turun. Ternyata bumper Innova ini menyeruduk plat nomer motornya sehingga melesak ke dalam. Suasana jadi kembali tegang. Ibunya ngomel-ngomel lagi. Saya cuma bisa bilang, “Mas, biar si Mama turun duluan…Terus mas juga turun, langsung minta maaf.”
Ibunya turun dan mendekati pengendara motor itu. Ternyata tidak ada kerusakan yang berarti, hanya pelat nomornya saja yang melesak ke dalam. Justru bumper mobil ini yang gores. Teman saya minta maaf pada orang itu, dan selesai. Anak muda ini bingung, tak bisa omong. Saya hanya bisa mengusap punggungnya. Itu sudah cukup membuatnya merasa ditemani, dan diberpihaki. untuk seorang anak berusia 17 tahun, pencapaian seperti ini luar biasa. Tidak adil jika dibandingkan dengan kemampuan ibunya yang sudah puluhan tahun menyetir. Bahkan ibunya pun mungkin belum pernah mengalami keadaan tegang seperti itu, harus mundur sejauh 200 meter dalam keadaan diteriaki banyak orang dan diomeli oleh ibunya sendiri.

Hhhhhh….apa yang terjadi? Mengapa justru setelah lewat badai stressnya, malah dia nyeruduk motor? Kita sering ngomel-ngomel nggak jelas, yang bikin orang-orang terutama anak dan pasangan kita stress, marah, tersinggung, tertekan atau dianggap tidak penting. Dan setelah anak kita melakukan pencapaian yang berarti, kita sama sekali tidak memuji atau memberi tanda bahwa hal itu dilakukan dengan benar. Seringkali, respon negatif anak bukan hanya dilakukan pada saat kejadian, tapi disimpan di memori dan meledak justru setelah kejadian itu berlalu. Berapa banyak kemarahan dan kerusakan yang terjadi hari ini justru karena adanya peristiwa di masa lalu, yang bahkan sudah kita tekan ke alam bawah sadar? Apakah ada di antara Anda yang pernah mengalami hal yang mirip seperti itu?

Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis & Certified Grafolog
Klinik Angsamerah-telp 021-391-5189.



Minggu, 09 Juni 2013

Komunikasi Orangtua - Anak: Sebegitu Burukkah?

Tadi malam saya diwawancara oleh Radio Sonora 92 FM dengan topic utama Pernikahan di Usia Dini. Banyak sekali respon dari pendengar dari berbagai kota di Indonesia, baik melalui telepon maupun SMS. Sebagian besar adalah perempuan yang bercerita bahwa mereka adalah korban perkosaan di usia dini. Atau remaja laki-laki dan perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Tentu, seperti banyak kasus lainnya, pihak orangtua tidak pernah tahu apa yang terjadi pada anaknya.

 Ada seorang perempuan , umur tahun yang diperkosa pada umur 7 tahun.
Ada laki-laki, umur 21 tahun yang pacarnya diperkosa pada umur 8 tahun.
Ada lagi ibu rumah tangga umur 42 tahun yang dinikahkan pada umur 13 tahun, dan sudah nikah 4 kali tapi belum punya anak.
Salah satu kasus yang diceritakan melalui telepon adalah dari seorang perempuan muda, usia 17 tahun yang mengalami perkosaan pada Januari 2013 dan hingga kini masih mengalami perdarahan, mengalami rasa sakit setiap kali kencing, serta sering keluar cairan dari vagina. Ketika ditanya lebih lanjut, penelpon mengatakan bahwa ia tidak menceritakan masalah ini kepada orangtuanya karena takut dimarahi. Ia juga tidak mendapatkan perawatan medis apalagi layanan psikologis untuk luka-luka lahir dan batin yang terjadi akibat perkosaan tersebut.

Saya tercengang. Astaghfirullah..., masalah ini begitu berat dan menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan alat-alat reproduksinya, serta menimbulkan trauma dan stress bagi jiwanya, tapi mengapa ia tidak berani menceritakan hal ini kepada orangtuanya?
Sudah 4 bulan peristiwa perkosaan ini berlalu, tapi mengapa orangtuanya juga sama sekali tidak sensitif terhadap perubahan yang mungkin diperlihatkan oleh anaknya? Apakah begitu buruknya kualitas hubungan antara orangtua dan anak, sehingga anak hanya memendam semua masalahnya, padahal seharusnya ia segera mendapatkan pertolongan?


Perdarahan yang terjadi sejak bulan Januari sampai sekarang mungkin terjadi karena adanya infeksi berat karena tindak kekerasan dalam perkosaan itu, bahkan mungkin terjadi robekan yang luas dan mendalam di organ reproduksi yang demikian lembut. Kita tidak tahu separah dan sekasar apa tindakan yanh dilakukan pemerkosa sehingga menimbulkan luka trauma fisik yang serius semacam itu. Bahkan korban perkosaan juga rentan tertular Infeksi-infeksi Menular Seksual seperti Kencing Nanah, Sifilis, Herpes, Chlamidya, Kutil Kelamin, dll. Lebih jauh lagi, korban bahkan rentan terinfeksi HIV akibat tindak perkosaan itu. Secara psikologis korban pasti mengalami campur aduk antara rasa jijik pada diri sendiri, malu, merasa bersalah, merasa kotor, merasa berdosa, ketakutan dan kemarahan, munculnya perasaan tidak berdaya, hingga trauma-trauma jiwa yang sulit dipahami orang selain korban. Belum lagi ketakutan akan hukuman sosial karena yang disalahkan selalu korban perkosaan, tapi pelaku perkosaan seolah bebas dari tudingan dan hukuman sosial. Sungguh menyakitkan! 


Sementara SMS dan telepon dari pendengar laki-laki seringkali bersikap menghujat dan menghakimi pelaku pernikahan usia muda dan korban perkosaan, seolah mereka adalah orang-orang yang kotor, terlalu matre, terlalu menantang sehingga laki-laki tergoda untuk memperkosa, tapi sekaligus juga menuduh perempuan itu kurang kuat imannya, tidak bermoral, dan semacamnya...
Ampuuuuunnnn....padahal SMS dari remaja laki-laki umumnya bertanya tentang bagaimana seringnya mereka onani, bagaimana mereka sering mengajak pacar berhubungan seks, bagaimana membuktikan pacar tidak perawan lagi, bagaimana mereka tidak bisa mengelola dorongan seks...

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggema di kepala saya hingga pagi ini…
Sebegitu burukkah hubungan anak-anak kita dengan kita sebagai orangtuanya, hanya karena kita para orangtua tidak pernah mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengar? Karena kita sebagai orangtua cenderung hanya menghakimi ketika terjadi suatu masalah, tapi lupa memahami bahwa kita sebenarnya juga berkontribusi terhadap kegagalan komunikasi ini. Apakah anak-anak kita begitu enggannya berkomunikasi dengan kita, hanya karena kita terlalu galak, kasar, memaksakan kehendak, tidak mau mendengar pendapat dan keluhan mereka, sehingga komunikasi yang terjadi hanya searah dan hanya berdasarkan kepentingan orangtua? Jadi, kepada siapa anak-anak itu harus berbagi beban?

Bahkan ratusan SMS yang masuk ke nomer saya sejak tadi malam pun menyiratkan hal yang sama: mereka tidak bisa mengkomunikasikan kegalauan mereka kepada orangtua, apalagi jika menyangkut informasi tentang seksualitas, kesehatan seksual, kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang benar.
Akhirnya mereka jadi bingung, mau tanya orang tua, disalahkan dan dituduh...
Mau tanya guru, sama juga: disalahkan, dituduh.... Tanya teman, sama-sama nggak ngerti... sementara dorongan untuk tahu dan mencoba sangat tinggi...


Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis & Grafolog
Klinik Angsamerah - tlp 021-391-5189
www.angsamerah.com
www.babyjimaditya.com

Senin, 15 April 2013

Kekerasan Seksual Terhadap Anak : Cermin Masyarakat yang "Sakit" By Baby Jim Aditya







Tanggal 9-10 April yang lalu, saya sebagai anggota Balai Pertimbangan Pemasyarakatan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan mengunjungi 7 Lembaga Pemasyarakatan di Nusa Kambangan. 

Di hari pertama saya berkesempatan mengunjungi Polres Cilacap. Bersama anggota Kompolnas Prof. DR Adrianus Meliala, kami diterima dengan sangat ramah oleh Kapolres Cilacap AKBP Wawan Muliawan, SH., SIK., MH., dan Wakapolres Kompol Kusumo Wahyu Bintoro SH., SIK., beserta jajarannya. Walaupun kami bertamu menjelang malam hari sehabis Magrib, sambutan beliau sangat hangat dan terbuka sehingga diskusi berjalan produktif. 

Diselingi hujan gerimis yang menyejukkan kota Cilacap, kami diajak berkeliling ke seluruh unit yang ada di lingkungan Polres Cilacap, terutama ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak, serta ruang tahanan. 
Dari 11 orang lelaki yang menjadi tahanan, 3 orang diantaranya adalah anggota polisi, dan 8 orang dari kalangan masyarakat. Dari 8 orang ini ada 2 kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap anak perempuan di bawah umur. Kedua tahanan ini memperkosa pacar yang berusia di bawah 18 tahun, dengan alasan toh akan “bertanggung jawab” yaitu akan mengawininya sehingga wajar jika mereka minta melakukan hubungan seks. Mereka bahkan keberatan mengapa keluarga sang pacar mereka mengadukan hal ini ke polisi sehingga mereka ditahan. 

Petugas unit Perlindungan Perempuan dan Anak mengatakan bahwa kasus perkosaan dan pencabulan terhadap anak di bawah umur di Cilacap cukup tinggi. Salah satu kasus yang menonjol adalah seorang kakek berumur 90 tahun yang mencabuli anak bayi berusia 1 tahun dengan cara memasukkan jarinya ke vagina anak tersebut sehingga terjadi perdarahan. Kasus tersebut sudah ditangani oleh Polres Cilacap. Pulang dari Polres, kami kembali ke hotel untuk rapat bersama para Kepala Lapas se-Nusa Kambangan. Di acara makan malam sebelum rapat, kak Seto (DR. Seto Mulyadi), psikolog anak yang duduk di depan saya menerima laporan via telepon tentang kasus perkosaan yang dilakukan seorang bupati di Ambon terhadap anak perempuan berumur 13 tahun.
Astaga, apa yang sedang terjadi dengan orang-orang ini? Kenapa kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur begitu menggila? Lebih parah lagi, pelakunya adalah orang-orang yang dikenal dan disegani oleh korban, padahal orang- orang ini seharusnya menjaga, bukan malah memangsa mereka.

Dalam beberapa bulan terakhir ini kasus perkosaan dan pencabulan terhadap anak perempuan di bawah umur sangat marak. Sepulang dari Nusa Kambangan, saya menyimak berita di televisi tanggal 11 April 2013 tentang perkosaan yang dilakukan oleh seorang guru mengaji di Bandung. Guru mengaji yang secara otomatis dituruti dan dipatuhi oleh murid-muridnya ini malah memperkosa dan mencabuli 12 orang murid perempuannya yang masih di bawah umur. 8 orang gadis kecil ini diperkosa berkali-kali dan 4 orang lainnya dicabuli berulangkali. Anda bisa bayangkan apa yang dilakukan orang dalam konteks “mencabuli” ini, dan sudah pasti dilakukan berkali-kali. Sementara korban sering tidak berdaya karena yang melakukannya adalah orang yang dia hormati, disegani dan harus dipatuhi. Sudah pasti korban sulit menceritakan kepada orang lain apa yang dialaminya karena mereka dibujuk rayu, ditakut-takuti bahkan diancam akan dibunuh jika berani bicara.

Di Situbondo, SR (15 tahun) berkali-kali diperkosa oleh tetangganya Subroto (35 tahun) seorang pria beristri, di gubuk di tengah sawah dengan cara dibopong dalam keadaan terikat tangan dan kakinya. Pelaku mengimingi-imingi korban dengan janji akan membelikan handphone. Sementara di Ogan Komering Ulu seorang kakek mencabuli anak tetangganya, yang masih duduk di kelas I Sekolah Dasar.
Seorang kakek di Medan, Nasrun (74 tahun) yang bertugas sebagai penjaga rumah ibadah memperkosa dua orang gadis cilik berumur 9 tahun dan 7 tahun berulangkali di kamar mandi rumah ibadah tempatnya bertugas. Kedua bocah ini diiming-imingi uang Rp 2.000 - Rp 5.000 disertai ancaman agar tidak menceritakan hal ini kepada orangtuanya. Sementara di Gresik, seorang ayah yang kecanduan nonton film porno memperkosa anak kandungnya yang berusia 14 tahun berulang kali hingga hamil 8 bulan. Kasus-kasus yang muncul ke permukaan hanyalah ibarat puncak gunung es, di mana jumlah kasus yang tidak dilaporkan pasti jauh lebih banyak lagi.

Jika saja kita mau sedikit repot bersusah payah mengajarkan kepada anak-anak kita bagaimana mengenali tubuhnya sendiri dan melindunginya dari sentuhan dan pelukan yang mencurigakan, tentu akan lebih mudah bagi anak-anak untuk mengenali ancaman yang ada di sekitarnya.
Sejak kecil tanamkan kepada anak bahwa dirinya sangat berharga, sehingga dia mengerti bahwa tubuhnya hanya boleh disentuh oleh orang tertentu dalam batas tertentu, misalnya hanya boleh disentuh oleh ibu, ayah, nenek, pengasuh atau dokter. 

Terlalu sering kita mengajarkan anak untuk bersikap sopan dan tidak menolak ketika disentuh orang lain seperti kenalan, sahabat, atau kerabat, sehingga anak bingung bagaimana harus bereaksi ketika tubuhnya disentuh di bagian yang harusnya tidak boleh disentuh orang lain. Sebaiknya ajarkan anak mengenali jenis-jenis sentuhan, mulai dari sentuhan yang tidak mencurigakan, sentuhan yang membingungkan, hingga sentuhan yang buruk dan harus dicurigai yaitu pada payudara, perut, pinggang, pinggul, vagina, penis, dan pantat. Semua harus dijelaskan dengan istilah-istilah yang jelas dan berulangkali sehingga anak mengerti maksudnya.Bahkan anak harus diajarkan untuk berani berteriak jika terjadi sentuhan-sentuhan buruk itu agar mendapat pertolongan dari orang yang ada disekitarnya.

Sebaliknya orang dewasa juga mesti lebih peka membaca sinyal-sinyal yang diberikan anak, karena pasti mereka sulit menceritakan apa yang dialaminya akibat diancam oleh pelaku, sekaligus takut disalahkan oleh orang yang mendengar laporannya. Apalagi pelaku pencabulan, kekerasan seksual hingga pemerkosaan seringkali adalah orang yang dikenal dan harus dipatuhi sehingga korban takut dan enggan membuka kasus ini, bahkan cenderung menyalahkan diri sendiri.

Anak-anak hendaknya juga diajar untuk waspada, bahwa tidak selalu orang dewasa atau berusia tua, yang secara sosial harus dihormati atau disegani itu memang PANTAS dipatuhi atau dituruti keinginannya. Karena yang menjadi tolok ukur hendaknya bukan usia, pangkat, kekayaan atau kedudukan sosial mereka, tapi justru perlakuannya terhadap tubuh anak. Dengan mengajarkan tentang hak-haknya, anak-anak jadi mengerti bahwa diri mereka berharga dan pantas mendapatkan perlakuan yang bermartabat. Bukan sebaliknya, dimangsa oleh orang-orang tua yang seharusnya melindungi mereka, dengan alasan "menyayangi", "memperhatikan", "menyantuni" atau "memberi hadiah" buat anak, tapi dengan maksud busuk di baliknya.

Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis, Grafolog
Klinik Angsamerah - Jl Blora 8 - Jakarta Pusat
telp. 021-391-5189
www.angsamerah.com
www.babyjimaditya.com