Hola Sahabat Pembaca Angsamerah,
Artikel-artikel di Blog ini sekarang sudah bisa Sahabat Akses di website kami di blog.angsamerah.com
Blog ini akan kami tutup, dan artikel terbaru akan kami muat di website kami, yang secara khusus memiliki sistem "search" yang memudahkan sahabat memilih artikel dan juga membaca dengan nyaman.
Tampilkan postingan dengan label Seksualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seksualitas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Januari 2014
Masyarakat dan Seksualitas
Rabu, 20 November 2013
STOP BULLYING WARIA Oleh Ryan Hutagalung
“Cantik-cantik banget ya”, celetuk salah seorang penonton, “siapa yang dapat menyangka kalau mereka adalah waria?” lanjutnya.
“Iya ya. Cewek asli saja sampai kalah cantik,” kata yang lain mengomentari. Wah, sama sekali tidak terlintas sedikitpun di pikiranku kalau ternyata keempat penari tersebut adalah waria. Takjub dan kagum memenuhi benakku.
Komunitas waria, setuju atau tidak mereka ada diantara kita. Era tahun 70an hingga 90an waria hanya bisa kita lihat di jalanan sebagai pekerja seks dengan dandanan mencolok dan pakaian seksi. Tak jarang mereka menjadi bahan olok-olokkan masyarakat di sekitarnya.
Rabu, 04 September 2013
Belajar Seksologi bersama dr Oka Negara - Libido
Seorang laki-laki dewasa sempat bertanya seperti ini, “Dok, banyak yang bilang kalau dorongan seksual laki-laki itu lebih tinggi daripada perempuan, tetapi saya dan istri kok berbeda ya? Istri saya yang dorongan seksualnya malah berlebihan menurut saya, yang akhirnya membuat saya kewalahan. Yang benar itu bagaimana dok, bisa jelaskan tentang dorongan seksual ini?
Dorongan seksual, gairah seksual, hasrat seksual atau libido, itu sering digunakan istilahnya. Dorongan seksual merupakan komponen seksual yang utama, karena tanpa adanya dorongan seksual atau jika dorongan seksual menurun, hubungan seksual yang merupakan kebutuhan dasar ini tidak dapat berjalan baik, yang akan mengganggu pencapaian kepuasan seksual dan keharmonisan, yang tentu saja akhirnya mengganggu kualitas hidup manusia secara umum. Jadi, dorongan seksual itu sangat penting bagi kehidupan, karena besar porsinya dalam menentukan kualitas hidup.
Labels:
Belajar Seksologi with dr. Oka,
Seks,
Seksologi,
Seksualitas
Jumat, 26 Juli 2013
Gay Tidak Selalu Identik Dengan Kemayu
![]() |
| mind sketch by ns |
Adalah nyata, bahwa tidak setiap LSL selalu di identikkan dengan sifat atau kebiasaan lemah gemulai atau yang biasa disebut juga sebagai kemayu, dimana yang lebih kasarnya disebut juga sebagai kewanitaan atau seperti banci. Bahkan, dari beberapa pengalaman pribadi ketika menghadapi pasien dari kalangan LSL, lebih banyak datang pria yang macho dalam artian mereka tidak kemayu atau feminin, bahkan ironinya beberapa dari mereka sudah menikah dan memiliki anak dengan pasangan tidak sejenis (wanita).
Sangatlah sulit untuk menebak atau menduga bahwa seorang pria adalah gay atau LSL, tidak serta merta bahwa yang bersifat feminin itu adalah seorang gay, atau bahkan sebaliknya kalau macho bukan berarti seorang gay. Orientasi seksual sejenis antar pria ini hanya bisa ditemukan, bila pelakunya mengakui ketertarikannya terhadap sesama jenis.
dr. Mohammad Caesario
HP : +628122159433
BlackBerry PIN : 21C2F24B
Yahoo Messenger : rio_caesar
Angsamerah Clinic
Graha Media Building Lt. 2
Jl. Blora 8-10, Menteng, Jakarta Pusat 10310
+6221-3915189
Labels:
Gay,
Kesehatan Pria,
Seksologi,
Seksualitas
Rabu, 24 Juli 2013
Belajar Seksologi bersama dr Oka Negara - Voyeurisme: Kisah Lady Godiva Telanjang dan Tom Si Pengintip
Kali ini kita bahas parsial tentang parafilia. Parafilia itu sekumpulan aktivitas atau perilaku seksual yang dianggap nyeleneh dan tidak lazim bagi kebanyakan orang. Masih banyak orang menganggapnya sebagai penyimpangan atau kelainan seksual, tetapi itu sesungguhnya tidak tepat juga. Yang dikenal sebagai parafilia yang sering dibahas adalah pedofilia (tertarik secara seksual dengan anak-anak), sadomasokisme (aktivitas seksual menggunakan kekerasan, yang satu menikmati dengan menyakiti, satu lagi menikmati karena disakiti), eksibisionisme (kepuasan seksual didapat dengan mempertontonkan kelamin ke orang lain), zoofilia (tertarik secara seksual dengan binatang), froteurisme (kepuasan seksual dengan menggesekkan kelamin ke orang lain di kerumunan orang banyak) dan masih banyak jenis lain termasuk voyeurisme (puas dengan mengintip).
Labels:
Belajar Seksologi with dr. Oka,
Seks,
Seks Sehat,
Seksologi,
Seksualitas
Diamond are Forever
Hold one up and then caress it,
Touch it, stroke it and undress it,
I can see ev'ry part,
Nothing hides in the heart to hurt me.
Diamond are Forever adalah film ke-enam Sean Connery sebagai agen rahasia James Bond 007. Connery yang telah membintangi lima film Bond menolak untuk memerankan Bond lagi setelah film You Only Live Twice (1967), dan peran Bond diberikan pada George Lazenby dalam On Her Majesty’s Secret Service (1969). Lazenby memutuskan untuk main satu film Bond saja atas bujukan managernya yang mengatakan bahwa tahun ‘70an film spionase tak bakal laku. Ia pun hengkang dari proyek Bond berikutnya. Dengan bujuk rayu, Connery akhirnya kembali untuk main dalam film Bond ke tujuh ini.
Bicara soal diamond, bicara soal perhiasan. Bicara soal perhiasan, bicara soal perhiasan di penis. Yang dimaksud di sini adalah perhiasan yang sudah ada sejak lahir atau terjadi secara alamiah dengan bertambahnya usia. Jadi bukan buatan.Senin, 15 Juli 2013
The River of No Return
The River of No Return merupakan film barat keluaran 1954 yang dibintangi Marilyn Monroe dan Robert Mitchum. Film tersebut menjadi sebuah kontroversi karena untuk pertama kalinya dipertontonkan seorang perempuan memakai celana jeans. Monroe mengenakan jeans Levi’s ketat, dan kemudian terjadi revolusi dunia mode wanita, dimana para perempuan ikut-ikut pakai celana jeans ketat a la Monroe. Selain soal fesyen, lagu tema film ini juga menjadi hits, generasi tahun 50-an sering menyenandungkannya dan hingga kini mereka masih mengenang dan menyukainya. “….Wailereeee…I can hear the river call, no return, no return, no return…..” Dalam The River of No Return tokoh-tokohnya berpetualang di sepanjang aliran sungai. Yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini juga tentang aliran dan saluran. Rabu, 10 Juli 2013
Mandingo
Film ini sangat popular di Indonesia pada era 70an; menceritakan kekejaman perbudakan, eksploitasi terhadap mereka yang berkulit gelap. Peternakan budak, demikian masa kelam itu dikenal. Dan memang budak-budak itu diternakan dalam arti sebenarnya. Dari soal pakan, kandang, sampai kawin, supaya anak-anaknya dapat dijual sebagai budak. Istilah Mandingo mengacu salah satu ras unggul budak-budak ini, ras petarung. Dan budak dari ras ini dihargai mahal karena dipertarungkan satu sama lain, seperti ayam. Tentunya praktek ini lekat dengan perjudian dan taruhan.
Membahas Mandingo berarti bicara soal warna kulit, bicara soal kelamin, bicara soal penampilan lahiriah. Dan kita juga membicarakan soal yang sama dalam bagian ini, yakni variasi dalam penampilan penis.
Sabtu, 06 Juli 2013
Belajar Seksologi bersama dr Oka Negara - " Fantasi Seksual dan Mimpi Erotis"
![]() |
| mind sketch by ns |
Malam menjelang pagi, di saat level testosteron sedang tinggi gini enaknya bahas tentang fantasi seksual dan mimpi erotis. Perlu diketahui, keduanya bukanlah kelainan atau gangguan. Fantasi seksual sering kali dibandingkan dengan mimpi erotis yang sering dialami oleh remaja.
Pada mimpi erotis, selalu muncul hal yang bersifat erotis misalnya berpelukan, berciuman hingga berhubungan seksual. Dengan mimpi erotis juga dapat terjadi orgasme serta ejakulasi pada laki-laki, sehingga sering disebut juga mimpi basah. Mimpi erotis dapat dialami oleh laki-laki atau perempuan. Siapa yang muncul dalam mimpi erotis tidak selalu seseorang yang dikenal. Mungkin tidak kenal sama sekali.
Gentlemen Prefer Blondes
Para cinema aficionado mungkin bertanya-tanya, mengapa memilih Gentlemen Prefer Blondes sebagai judul? Apa hubungannya? Marilyn Monroe dan Jane Russel membintangi film komedi musical buatan 1956 ini. Film yang menceritakan petualangan dua gadis dari kota kecil Little Rock dalam mencari cinta, yang membuat mereka terdampar di Paris dan berurusan dengan polisi dan hakim.
Tentu saja kaitannya adalah sebuah lagu yang dinyanyikan Marilyn Monroe. Tepatnya sepenggal lirik yang terus dikenang para pencinta film dan…..berlian. Diamonds are The Girl’s Best Friend lagunya, sedangkan sepenggal lirik itu adalah: But square-cut or pear-shaped,
These rocks don't lose their shape….Diamonds are the girl’s best friend…..(But penises are the boy’s best obsession) Okay, masuk akal?
Sebagai obsesi kaum pria, maka bentuk dari penis mereka tentunya sangat berarti juga bagi mereka. Dan karena
Rabu, 03 Juli 2013
Godzilla
Film asal negerinya Tatsuro Yamashita dan Sadako ini pertama kali ditayangkan tahun 1954. Dengan sekuel yang kemudian mencapai puluhan, film ini begitu kondang hingga oleh Amerika diimpor dan dirombak. Judul Gojira diamerikanisasi menjadi Godzilla, King of the Monsters! Agaknya dunia tergila-gila dengan benda karet yang satu ini, sehingga kemudian Godzilla dibuat ulang tahun 1998 (kabarnya akan dibuat lagi tahun 2014). Sebuah film remake dengan tag yang sangat menggoda: SIZE DOES MATTER.
Kalau kita membicarakan penis, ukuran menjadi salah satu topik yang juga sangat menggoda. Meski di mulut berkata, “size doesn’t really matter”, tetapi di alam bawah sadar seorang pria, ukuran tetap merupakan masalah. Bahkan sejak ia sadar ia berpenis, pria sudah mulai membandingkan dengan penis orang lain. Samakah? Lebih kecilkah? Lebih besarkah?
Jumat, 28 Juni 2013
Moby Dick
Moby Dick
adalah roman fenomenal dari Herman Meville tentang obsesi seorang kapten
terhadap paus putih raksasa yang menghantarkan ia dan anak buahnya ke dalam kehancuran. Roman
ini diangkat menjadi sebuah film klasik yang sangat terkenal pada tahun ‘50an oleh John Huston,
dengan Gregory Peck sebagai pemeran utama. Roman ini sampai sekarang tetap menjadi perdebatan di
antara para kritikus: apakah memang menceritakan petualangan perburuan paus
dengan tokoh utama kapten Ahab yang dendam terhadap Moby Dick, si paus putih,
atau merupakan roman simbolik yang sesungguhnya menyimbolkan obsesi seorang
pria terhadap……penis.
Minggu, 09 Juni 2013
Komunikasi Orangtua - Anak: Sebegitu Burukkah?
Tadi malam saya diwawancara oleh Radio Sonora 92 FM dengan topic utama Pernikahan di Usia Dini. Banyak sekali respon dari pendengar dari berbagai kota di Indonesia, baik melalui telepon maupun SMS. Sebagian besar adalah perempuan yang bercerita bahwa mereka adalah korban perkosaan di usia dini. Atau remaja laki-laki dan perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Tentu, seperti banyak kasus lainnya, pihak orangtua tidak pernah tahu apa yang terjadi pada anaknya.
Ada seorang perempuan , umur tahun yang diperkosa pada umur 7 tahun.
Ada laki-laki, umur 21 tahun yang pacarnya diperkosa pada umur 8 tahun.
Ada lagi ibu rumah tangga umur 42 tahun yang dinikahkan pada umur 13 tahun, dan sudah nikah 4 kali tapi belum punya anak.
Salah satu kasus yang diceritakan melalui telepon adalah dari seorang perempuan muda, usia 17 tahun yang mengalami perkosaan pada Januari 2013 dan hingga kini masih mengalami perdarahan, mengalami rasa sakit setiap kali kencing, serta sering keluar cairan dari vagina. Ketika ditanya lebih lanjut, penelpon mengatakan bahwa ia tidak menceritakan masalah ini kepada orangtuanya karena takut dimarahi. Ia juga tidak mendapatkan perawatan medis apalagi layanan psikologis untuk luka-luka lahir dan batin yang terjadi akibat perkosaan tersebut.
Saya tercengang. Astaghfirullah..., masalah ini begitu berat dan menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan alat-alat reproduksinya, serta menimbulkan trauma dan stress bagi jiwanya, tapi mengapa ia tidak berani menceritakan hal ini kepada orangtuanya?
Sudah 4 bulan peristiwa perkosaan ini berlalu, tapi mengapa orangtuanya juga sama sekali tidak sensitif terhadap perubahan yang mungkin diperlihatkan oleh anaknya? Apakah begitu buruknya kualitas hubungan antara orangtua dan anak, sehingga anak hanya memendam semua masalahnya, padahal seharusnya ia segera mendapatkan pertolongan?
Perdarahan yang terjadi sejak bulan Januari sampai sekarang mungkin terjadi karena adanya infeksi berat karena tindak kekerasan dalam perkosaan itu, bahkan mungkin terjadi robekan yang luas dan mendalam di organ reproduksi yang demikian lembut. Kita tidak tahu separah dan sekasar apa tindakan yanh dilakukan pemerkosa sehingga menimbulkan luka trauma fisik yang serius semacam itu. Bahkan korban perkosaan juga rentan tertular Infeksi-infeksi Menular Seksual seperti Kencing Nanah, Sifilis, Herpes, Chlamidya, Kutil Kelamin, dll. Lebih jauh lagi, korban bahkan rentan terinfeksi HIV akibat tindak perkosaan itu. Secara psikologis korban pasti mengalami campur aduk antara rasa jijik pada diri sendiri, malu, merasa bersalah, merasa kotor, merasa berdosa, ketakutan dan kemarahan, munculnya perasaan tidak berdaya, hingga trauma-trauma jiwa yang sulit dipahami orang selain korban. Belum lagi ketakutan akan hukuman sosial karena yang disalahkan selalu korban perkosaan, tapi pelaku perkosaan seolah bebas dari tudingan dan hukuman sosial. Sungguh menyakitkan!
Sementara SMS dan telepon dari pendengar laki-laki seringkali bersikap menghujat dan menghakimi pelaku pernikahan usia muda dan korban perkosaan, seolah mereka adalah orang-orang yang kotor, terlalu matre, terlalu menantang sehingga laki-laki tergoda untuk memperkosa, tapi sekaligus juga menuduh perempuan itu kurang kuat imannya, tidak bermoral, dan semacamnya...
Ampuuuuunnnn....padahal SMS dari remaja laki-laki umumnya bertanya tentang bagaimana seringnya mereka onani, bagaimana mereka sering mengajak pacar berhubungan seks, bagaimana membuktikan pacar tidak perawan lagi, bagaimana mereka tidak bisa mengelola dorongan seks...
Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggema di kepala saya hingga pagi ini…
Sebegitu burukkah hubungan anak-anak kita dengan kita sebagai orangtuanya, hanya karena kita para orangtua tidak pernah mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengar? Karena kita sebagai orangtua cenderung hanya menghakimi ketika terjadi suatu masalah, tapi lupa memahami bahwa kita sebenarnya juga berkontribusi terhadap kegagalan komunikasi ini. Apakah anak-anak kita begitu enggannya berkomunikasi dengan kita, hanya karena kita terlalu galak, kasar, memaksakan kehendak, tidak mau mendengar pendapat dan keluhan mereka, sehingga komunikasi yang terjadi hanya searah dan hanya berdasarkan kepentingan orangtua? Jadi, kepada siapa anak-anak itu harus berbagi beban?
Bahkan ratusan SMS yang masuk ke nomer saya sejak tadi malam pun menyiratkan hal yang sama: mereka tidak bisa mengkomunikasikan kegalauan mereka kepada orangtua, apalagi jika menyangkut informasi tentang seksualitas, kesehatan seksual, kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang benar.
Akhirnya mereka jadi bingung, mau tanya orang tua, disalahkan dan dituduh...
Mau tanya guru, sama juga: disalahkan, dituduh.... Tanya teman, sama-sama nggak ngerti... sementara dorongan untuk tahu dan mencoba sangat tinggi...
Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis & Grafolog
Klinik Angsamerah - tlp 021-391-5189
www.angsamerah.com
www.babyjimaditya.com
Ada seorang perempuan , umur tahun yang diperkosa pada umur 7 tahun.
Ada laki-laki, umur 21 tahun yang pacarnya diperkosa pada umur 8 tahun.
Ada lagi ibu rumah tangga umur 42 tahun yang dinikahkan pada umur 13 tahun, dan sudah nikah 4 kali tapi belum punya anak.
Salah satu kasus yang diceritakan melalui telepon adalah dari seorang perempuan muda, usia 17 tahun yang mengalami perkosaan pada Januari 2013 dan hingga kini masih mengalami perdarahan, mengalami rasa sakit setiap kali kencing, serta sering keluar cairan dari vagina. Ketika ditanya lebih lanjut, penelpon mengatakan bahwa ia tidak menceritakan masalah ini kepada orangtuanya karena takut dimarahi. Ia juga tidak mendapatkan perawatan medis apalagi layanan psikologis untuk luka-luka lahir dan batin yang terjadi akibat perkosaan tersebut.
Saya tercengang. Astaghfirullah..., masalah ini begitu berat dan menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan alat-alat reproduksinya, serta menimbulkan trauma dan stress bagi jiwanya, tapi mengapa ia tidak berani menceritakan hal ini kepada orangtuanya?
Sudah 4 bulan peristiwa perkosaan ini berlalu, tapi mengapa orangtuanya juga sama sekali tidak sensitif terhadap perubahan yang mungkin diperlihatkan oleh anaknya? Apakah begitu buruknya kualitas hubungan antara orangtua dan anak, sehingga anak hanya memendam semua masalahnya, padahal seharusnya ia segera mendapatkan pertolongan?
Perdarahan yang terjadi sejak bulan Januari sampai sekarang mungkin terjadi karena adanya infeksi berat karena tindak kekerasan dalam perkosaan itu, bahkan mungkin terjadi robekan yang luas dan mendalam di organ reproduksi yang demikian lembut. Kita tidak tahu separah dan sekasar apa tindakan yanh dilakukan pemerkosa sehingga menimbulkan luka trauma fisik yang serius semacam itu. Bahkan korban perkosaan juga rentan tertular Infeksi-infeksi Menular Seksual seperti Kencing Nanah, Sifilis, Herpes, Chlamidya, Kutil Kelamin, dll. Lebih jauh lagi, korban bahkan rentan terinfeksi HIV akibat tindak perkosaan itu. Secara psikologis korban pasti mengalami campur aduk antara rasa jijik pada diri sendiri, malu, merasa bersalah, merasa kotor, merasa berdosa, ketakutan dan kemarahan, munculnya perasaan tidak berdaya, hingga trauma-trauma jiwa yang sulit dipahami orang selain korban. Belum lagi ketakutan akan hukuman sosial karena yang disalahkan selalu korban perkosaan, tapi pelaku perkosaan seolah bebas dari tudingan dan hukuman sosial. Sungguh menyakitkan!
Sementara SMS dan telepon dari pendengar laki-laki seringkali bersikap menghujat dan menghakimi pelaku pernikahan usia muda dan korban perkosaan, seolah mereka adalah orang-orang yang kotor, terlalu matre, terlalu menantang sehingga laki-laki tergoda untuk memperkosa, tapi sekaligus juga menuduh perempuan itu kurang kuat imannya, tidak bermoral, dan semacamnya...
Ampuuuuunnnn....padahal SMS dari remaja laki-laki umumnya bertanya tentang bagaimana seringnya mereka onani, bagaimana mereka sering mengajak pacar berhubungan seks, bagaimana membuktikan pacar tidak perawan lagi, bagaimana mereka tidak bisa mengelola dorongan seks...
Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggema di kepala saya hingga pagi ini…
Sebegitu burukkah hubungan anak-anak kita dengan kita sebagai orangtuanya, hanya karena kita para orangtua tidak pernah mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengar? Karena kita sebagai orangtua cenderung hanya menghakimi ketika terjadi suatu masalah, tapi lupa memahami bahwa kita sebenarnya juga berkontribusi terhadap kegagalan komunikasi ini. Apakah anak-anak kita begitu enggannya berkomunikasi dengan kita, hanya karena kita terlalu galak, kasar, memaksakan kehendak, tidak mau mendengar pendapat dan keluhan mereka, sehingga komunikasi yang terjadi hanya searah dan hanya berdasarkan kepentingan orangtua? Jadi, kepada siapa anak-anak itu harus berbagi beban?
Bahkan ratusan SMS yang masuk ke nomer saya sejak tadi malam pun menyiratkan hal yang sama: mereka tidak bisa mengkomunikasikan kegalauan mereka kepada orangtua, apalagi jika menyangkut informasi tentang seksualitas, kesehatan seksual, kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang benar.
Akhirnya mereka jadi bingung, mau tanya orang tua, disalahkan dan dituduh...
Mau tanya guru, sama juga: disalahkan, dituduh.... Tanya teman, sama-sama nggak ngerti... sementara dorongan untuk tahu dan mencoba sangat tinggi...
Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis & Grafolog
Klinik Angsamerah - tlp 021-391-5189
www.angsamerah.com
www.babyjimaditya.com
Labels:
Baby Jim Aditya,
Kekerasan Seksual,
Komunikasi Orang Tua dan Anak,
Parenting Seks,
Seksologi,
Seksualitas
Langganan:
Postingan (Atom)











