Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Orang Tua dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Orang Tua dan Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2014

Siasat Menjadi Ibu yang Bekerja


 "Each of us, therefore, has the opportunity and responsibility to protect and nurture children." – Hillary R. Clinton

Bukti bahwa tahun terus berganti dan hidup terus berjalan adalah adanya perubahan. Seiring dengan pergantian fase kehidupan, hal yang menjadi fokus pun tak lagi sama. Hampir tidak pernah terbayangkan kalau saya akan melewati periode di mana lini masa penuh dengan perdebatan topik klasik. Topik yang semakin kencang berhembus dengan gerakan feminisme. Ya, pro kontra tentang ibu yang bekerja (working mom) versus ibu rumah tangga (stay at home mom) memang tidak ada habisnya.
atlantablackstar.com
 

Dari sudut pandang yang sangat sederhana, boleh dikatakan hidup itu adalah pilihan. Apapun pilihan yang kita buat, maka hendaknya kita sudah siap dengan konsekuensinya. Akan bahagiakah kita, atau justru akan sedihkah kita dengan pilihan tersebut. Tapi tentu saja, hidup bukan soal hitam dan putih, melainkan banyak daerah abu-abu di sana. Daerah abu-abu ini merupakan ambivalensi yang wajar dimiliki setiap orang, termasuk oleh perempuan, yang juga merupakan ibu, tanpa memandang status pekerjaannya.

Selasa, 07 Januari 2014

Masyarakat dan Seksualitas

Waktu serial Sex and the City menjadi primadona, saya belum cukup umur untuk bisa ikut menontonnya. Judulnya yang provokatif mungkin membuat banyak orang di kalangan kita berjengit. Tapi, penggambaran si tokoh utama, Carrie Bradshaw, dalam menyelami budaya metropolitan melalui relasi antar manusia yang hidup dalam nuansa urban memang membuka mata. Seksualitas menjadi pesan utama yang disampaikan melalui kisah ini, di mana setiap kita memiliki cara yang berbeda untuk mengekspresikan seksualitas yang dimiliki.

Kamis, 18 Juli 2013

KOMUNIKASI KITA DAN ANAK: MENGAPA SERING BERMASALAH? By Baby Jim Aditya

Kemarin siang saya ikut nebeng mobil teman, seorang ibu berusia 46 tahun. Di daerah Kebayoran, ia menjemput putranya, murid kelas II SMA dan kemudian anak ini mengambil alih kemudi.

Tujuan kami ke Pancoran. Anak ini dengan sigap mengambil jalan pintas di suatu tempat menuju Tendean. Niatnya tentu baik, menghindari kemacetan yang muncul lebih awal pada hari-hari di bulan puasa ini. Begitu masuk jalan itu, ibunya komentar, “Mas, kok lewat sini? Emangnya tau jalannya? Ntar nyasar, lho” Anaknya berkomentar dengan malas, “udah, tenang aja, saya sering lewat sini, kok. Ada teman yang tinggal dekat sini.” Memang nampaknya perjalanan akan lancar karena jalan ini relatif sepi.

Baru sekitar 200 meter melaju, jalan mulai tersendat. Ternyata jalan ini mengecil, hanya cukup untuk satu mobil, melewati jembatan di atas sungai di perkampungan padat. Di sisi kanan kiri berderet pedagang makanan buka puasa: tukang jual gorengan, es buah, jus, bakso, aneka lauk pauk yang dikerumuni lalat karena dibiarkan terbuka. Ramai sekali orang mengelilingi penjual makanan itu. Tiba-tiba ada orang berteriak, “Gak bisa maju, ada panggung, ayo balik saja.”
Tentu saja suasana menjadi gaduh. Tidak mungkin mobil memutar, karena jalanan sangat sempit dan ramai.
Semua orang berteriak memandu agar mobil-mobil dan motor-motor tidak melanjutkan perjalanan. Bagi motor-motor, relatif lebih mudah untuk memutar dan berbalik. Tapi mobil sebesar Innova ini tentu harus super repot mundur sejauh 200 meter, dengan kondisi jalan sempit, penuh sesak oleh kerumunan orang, sepeda motor dan pedagang di kanan kiri.

Sudah dapat diduga, teman saya ngomel-ngomel karena menganggap anaknya sok tahu memilih jalan itu. Terjadi perdebatan sengit karena anaknya juga tidak terima disalahkan. “Khan Mama udah bilang, jangan lewat sini, kenapa kamu terusin? Anaknya jadi kesal karena ia juga tidak tahu bahwa di bulan puasa, jalan ini dipadati penjual. Apalagi ia juga tidak tahu kalau di depan ada panggung. “Ya, saya mana tahu kalau ramai begini. Biasanya sepi aja, kok. Udah donk jangan nyalahin saya terus, saya stress nih.”

Dikomandoi banyak orang untuk mundur, dapat dibayangkan betapa stress nya anak muda ini harus memundurkan mobil dalam gang yang super padat. Ia harus bolak-balik maju mundur. Ibunya juga ikut stress, setiap detik mulutnya mengomel’ “Ayo, mas, terus, terus, terus, balas kiri dikit. Awas, ada gerobak. Awas ada orang…awas…ada motor di kanan…awas nyenggol….awas spion…Aduhhh…hati-hati, donk, mas. Itu khan ada motor, masak nggak kelihatan…, dst, dst…”
Anak muda ini, yang sudah stess sejak tadi, semakin tertekan dengan teriakan orang-orang yang jadi pemandu dadakan, semakin stress dengan panduan dan omelan ibunya, “Udah, udah, donk…Jangan pada ngomong semua…saya juga ngerti…saya juga stress, tau nggak?” Suasana di dalam mobil tegang. Saya paham anak ini pasti dobel stress, mungkin malah triple stress karena tekanan dari orang-orang yang sok jadi pemandu tapi berbeda-beda panduannya. Stress karena panduan ibunya dibarengi omelan menyalahkan dirinya. Stress karena harus menahan marah karena ada saya dan satu orang lagi teman ibunya di dalam mobil.

Saya diam saja. Suasana sangat tidak enak. Anak ini sebenarnya anak baik, cukup kreatif dan cerdas, tapi tidak ada yang mengapresiasi. Saya cuma bisa nyeletuk sambil mengelus punggungnya, “Iya, mas tadinya, khan, niat baik, ya, biar kita nggak kena macet…Siapa yang tahu, ya, kalau di dalam ada keramaian begini?” Dia agak tenang, tersenyum, “Iya, Tante, saya juga nggak tahu kalo rame begini”

Setelah 10 menit yang menegangkan dan penuh suara perintah dari luar dan dalam mobil, kami tiba di jalan yang membelah dua, sehingga bisa memutar. Keringat sudah bercucuran di dahinya. Kami berucap, Alhamdulillah. Saya mencoba mengapresiasinya, “Wah, hebat, mas, luar biasa… Susah banget lho mundur sejauh itu…mana padat begini, lagi…” Ibunya yang dari tadi ngomel, diam saja, sama sekali tidak memberi apresiasi atau apapun kepada anak ini.

Tiba di jalan yang agak lengang, sekitar 2 menit setelah keluar dari suasana itu, tiba-tiba ia mengerem mendadak. Rupanya ada sepeda motor di depannya yang secara tak sengaja jadi tertabrak olehnya. Pengendaranya berhenti, marah-marah, minta dia turun. Ternyata bumper Innova ini menyeruduk plat nomer motornya sehingga melesak ke dalam. Suasana jadi kembali tegang. Ibunya ngomel-ngomel lagi. Saya cuma bisa bilang, “Mas, biar si Mama turun duluan…Terus mas juga turun, langsung minta maaf.”
Ibunya turun dan mendekati pengendara motor itu. Ternyata tidak ada kerusakan yang berarti, hanya pelat nomornya saja yang melesak ke dalam. Justru bumper mobil ini yang gores. Teman saya minta maaf pada orang itu, dan selesai. Anak muda ini bingung, tak bisa omong. Saya hanya bisa mengusap punggungnya. Itu sudah cukup membuatnya merasa ditemani, dan diberpihaki. untuk seorang anak berusia 17 tahun, pencapaian seperti ini luar biasa. Tidak adil jika dibandingkan dengan kemampuan ibunya yang sudah puluhan tahun menyetir. Bahkan ibunya pun mungkin belum pernah mengalami keadaan tegang seperti itu, harus mundur sejauh 200 meter dalam keadaan diteriaki banyak orang dan diomeli oleh ibunya sendiri.

Hhhhhh….apa yang terjadi? Mengapa justru setelah lewat badai stressnya, malah dia nyeruduk motor? Kita sering ngomel-ngomel nggak jelas, yang bikin orang-orang terutama anak dan pasangan kita stress, marah, tersinggung, tertekan atau dianggap tidak penting. Dan setelah anak kita melakukan pencapaian yang berarti, kita sama sekali tidak memuji atau memberi tanda bahwa hal itu dilakukan dengan benar. Seringkali, respon negatif anak bukan hanya dilakukan pada saat kejadian, tapi disimpan di memori dan meledak justru setelah kejadian itu berlalu. Berapa banyak kemarahan dan kerusakan yang terjadi hari ini justru karena adanya peristiwa di masa lalu, yang bahkan sudah kita tekan ke alam bawah sadar? Apakah ada di antara Anda yang pernah mengalami hal yang mirip seperti itu?

Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis & Certified Grafolog
Klinik Angsamerah-telp 021-391-5189.



Minggu, 09 Juni 2013

Komunikasi Orangtua - Anak: Sebegitu Burukkah?

Tadi malam saya diwawancara oleh Radio Sonora 92 FM dengan topic utama Pernikahan di Usia Dini. Banyak sekali respon dari pendengar dari berbagai kota di Indonesia, baik melalui telepon maupun SMS. Sebagian besar adalah perempuan yang bercerita bahwa mereka adalah korban perkosaan di usia dini. Atau remaja laki-laki dan perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Tentu, seperti banyak kasus lainnya, pihak orangtua tidak pernah tahu apa yang terjadi pada anaknya.

 Ada seorang perempuan , umur tahun yang diperkosa pada umur 7 tahun.
Ada laki-laki, umur 21 tahun yang pacarnya diperkosa pada umur 8 tahun.
Ada lagi ibu rumah tangga umur 42 tahun yang dinikahkan pada umur 13 tahun, dan sudah nikah 4 kali tapi belum punya anak.
Salah satu kasus yang diceritakan melalui telepon adalah dari seorang perempuan muda, usia 17 tahun yang mengalami perkosaan pada Januari 2013 dan hingga kini masih mengalami perdarahan, mengalami rasa sakit setiap kali kencing, serta sering keluar cairan dari vagina. Ketika ditanya lebih lanjut, penelpon mengatakan bahwa ia tidak menceritakan masalah ini kepada orangtuanya karena takut dimarahi. Ia juga tidak mendapatkan perawatan medis apalagi layanan psikologis untuk luka-luka lahir dan batin yang terjadi akibat perkosaan tersebut.

Saya tercengang. Astaghfirullah..., masalah ini begitu berat dan menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan alat-alat reproduksinya, serta menimbulkan trauma dan stress bagi jiwanya, tapi mengapa ia tidak berani menceritakan hal ini kepada orangtuanya?
Sudah 4 bulan peristiwa perkosaan ini berlalu, tapi mengapa orangtuanya juga sama sekali tidak sensitif terhadap perubahan yang mungkin diperlihatkan oleh anaknya? Apakah begitu buruknya kualitas hubungan antara orangtua dan anak, sehingga anak hanya memendam semua masalahnya, padahal seharusnya ia segera mendapatkan pertolongan?


Perdarahan yang terjadi sejak bulan Januari sampai sekarang mungkin terjadi karena adanya infeksi berat karena tindak kekerasan dalam perkosaan itu, bahkan mungkin terjadi robekan yang luas dan mendalam di organ reproduksi yang demikian lembut. Kita tidak tahu separah dan sekasar apa tindakan yanh dilakukan pemerkosa sehingga menimbulkan luka trauma fisik yang serius semacam itu. Bahkan korban perkosaan juga rentan tertular Infeksi-infeksi Menular Seksual seperti Kencing Nanah, Sifilis, Herpes, Chlamidya, Kutil Kelamin, dll. Lebih jauh lagi, korban bahkan rentan terinfeksi HIV akibat tindak perkosaan itu. Secara psikologis korban pasti mengalami campur aduk antara rasa jijik pada diri sendiri, malu, merasa bersalah, merasa kotor, merasa berdosa, ketakutan dan kemarahan, munculnya perasaan tidak berdaya, hingga trauma-trauma jiwa yang sulit dipahami orang selain korban. Belum lagi ketakutan akan hukuman sosial karena yang disalahkan selalu korban perkosaan, tapi pelaku perkosaan seolah bebas dari tudingan dan hukuman sosial. Sungguh menyakitkan! 


Sementara SMS dan telepon dari pendengar laki-laki seringkali bersikap menghujat dan menghakimi pelaku pernikahan usia muda dan korban perkosaan, seolah mereka adalah orang-orang yang kotor, terlalu matre, terlalu menantang sehingga laki-laki tergoda untuk memperkosa, tapi sekaligus juga menuduh perempuan itu kurang kuat imannya, tidak bermoral, dan semacamnya...
Ampuuuuunnnn....padahal SMS dari remaja laki-laki umumnya bertanya tentang bagaimana seringnya mereka onani, bagaimana mereka sering mengajak pacar berhubungan seks, bagaimana membuktikan pacar tidak perawan lagi, bagaimana mereka tidak bisa mengelola dorongan seks...

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggema di kepala saya hingga pagi ini…
Sebegitu burukkah hubungan anak-anak kita dengan kita sebagai orangtuanya, hanya karena kita para orangtua tidak pernah mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengar? Karena kita sebagai orangtua cenderung hanya menghakimi ketika terjadi suatu masalah, tapi lupa memahami bahwa kita sebenarnya juga berkontribusi terhadap kegagalan komunikasi ini. Apakah anak-anak kita begitu enggannya berkomunikasi dengan kita, hanya karena kita terlalu galak, kasar, memaksakan kehendak, tidak mau mendengar pendapat dan keluhan mereka, sehingga komunikasi yang terjadi hanya searah dan hanya berdasarkan kepentingan orangtua? Jadi, kepada siapa anak-anak itu harus berbagi beban?

Bahkan ratusan SMS yang masuk ke nomer saya sejak tadi malam pun menyiratkan hal yang sama: mereka tidak bisa mengkomunikasikan kegalauan mereka kepada orangtua, apalagi jika menyangkut informasi tentang seksualitas, kesehatan seksual, kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang benar.
Akhirnya mereka jadi bingung, mau tanya orang tua, disalahkan dan dituduh...
Mau tanya guru, sama juga: disalahkan, dituduh.... Tanya teman, sama-sama nggak ngerti... sementara dorongan untuk tahu dan mencoba sangat tinggi...


Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog
Seksolog, Hypnoterapis & Grafolog
Klinik Angsamerah - tlp 021-391-5189
www.angsamerah.com
www.babyjimaditya.com